ADAB MENIMBA ILMU KEPADA ULAMA

ADAB MENIMBA ILMU KEPADA ULAMA

بسم الله الرحمن الرحيم 

ADAB MENIMBA ILMU KEPADA ULAMA
قال الإمام الأجري: 
صِفَةُ مُجَالَسَتِهِ لِلْعُلَمَاءِ
” فَإِذَا أَحَبَّ مُجَالَسَةَ الْعُلَمَاءِ جَالَسَهُمْ بِأَدَبٍ , وَتَوَاضُعٍ فِي نَفْسِهِ , وَخَفَضَ صَوْتَهُ عَنْ صَوْتِهِمْ , وَسَأَلَهُمْ بِخُضُوعٍ , وَيَكُونُ أَكْثَرُ سُؤَالِهِ عَنْ عِلْمِ مَا تَعَبَّدَهُ اللَّهُ بِهِ , وَيُخْبِرُهُمْ أَنَّهُ فَقِيرٌ إِلَى عِلْمِ مَا يَسْأَلُ عَنْهُ , فَإِذَا اسْتَفَادَ مِنْهُمْ عِلْمًا أَعْلَمَهُمْ: أَنِّي قَدْ أُفِدْتُ خَيْرًا كَثِيرًا , ثُمَّ شَكَرَهُمْ عَلَى ذَلِكَ.
وَإِنْ غَضِبُوا عَلَيْهِ لَمْ يَغْضَبْ عَلَيْهِمْ , وَنَظَرَ إِلَى السَّبَبِ الَّذِي مِنْ أَجْلِهِ غَضِبُوا عَلَيْهِ , فَرَجَعَ عَنْهُ , وَاعْتَذَرَ إِلَيْهِمْ , لَا يُضْجِرُهُمْ فِي السُّؤَالِ , رَفِيقٌ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ , لَا يُنَاظِرُهُمْ مُنَاظَرَةً يُرِيهِمْ: أَنِّي أَعْلَمُ مِنْكُمْ. وَإِنَّمَا هِمَّتُهُ الْبَحْثُ لِطَلَبِ الْفَائِدَةِ مِنْهُمْ , مَعَ حُسْنِ التَّلَطُّفِ لَهُمْ , لَا يُجَادِلُ الْعُلَمَاءَ , وَلَا يُمَارِي السُّفَهَاءَ , يُحْسِنُ التَّأَنِّي لِلْعُلَمَاءِ مَعَ تَوْقِيرِهِ لَهُمْ , حَتَّى يَتَعَلَّمَ مَا يَزْدَادُ بِهِ عِنْدَ اللَّهِ فَهْمًا فِي دِينِهِ “
Telah berkata, Imam al-Ajury rahimahullah (wafat 360 H) : “Jikalau seseorang menyenangi untuk duduk bermajelis dengan para ulama maka duduklah dengan penuh adab, dan tawadhu pada dirinya, melirihkan suaranya daripada suara para ulama. 
Bertanyalah kepada mereka dengan sopan, dan hendaknya memperbanyak bertanya tentang ilmu yang berkaitan dengan bekal untuk beribadah kepada Allah. 
Dan hendaknya dia memberitahukan kepada pada ulama bahwa dia sangat butuh terhadap ilmu sebagaimana yang ia tanyakan. Maka apabila dia dapat mengambil manfaat dari para ulama berupa suatu ilmu maka hendaknya dia mengatakan kepada mereka, “Sungguh aku telah mengambil faidah kebaikan yang banyak kemudian bersyukur atas yang demikian.”
“Dan jika mereka para ulama marah kepadanya maka hendaknya dia jangan marah kepada mereka, hendaknya dia melihat kepada sebab kenapa mereka marah kepadanya dan mengintropeksi diri, memberikan udzur kelonggaran kepada mereka, dan tidak menyulitkan mereka dalam pertanyaan. 
Berlemah lembut dalam seluruh urusan-urusannya. Tidak memandang mereka dengan pandangan meremehkan  (sambil berkata) “Sesungguhnya aku lebih tahu daripada kalian.” 
Seharusnya semangat tertingginya adalah untuk mencari faidah ilmu dari mereka disertai dengan sikap lembut kepada mereka, tidak mendebat para ulama, dan  mendebat orang bodoh, lebih baik dalam bersikap tenang terhadap para ulama disertai dengan penghormatan kepada mereka. Sampai dia dapat belajar apa yang menjadi tambahan disisi Allah berupa bentuk kefahaman dalam agamanya.”
(Lihat Akhlaqul ‘Ulamaa 1/50 oleh Imam al-Ajurry rahimahullah)
semoga bermanfaat 
🎙 Ustadz Zaki Abu Kayyisa hafizhahulloh

gambar pixabay.com

COMMENTS