FATWA PARA ULAMA ISLAM DAN IJMA’ MEREKA DALAM MASALAH TAHLILAN

FATWA PARA ULAMA ISLAM DAN IJMA’ MEREKA DALAM MASALAH TAHLILAN

Apabila para shahabat telah melakukan ijma’ tentang sesuatu masalah seperti masalah yang sedang kita bahas ini, maka para tabi’in dan tabi’ut-tabi’in dan termasuk di dalamnya Imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad) dan seluruh Ulama Islam dari zaman ke zamanpun mengikuti ijma’nya para sahabat yaitu berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan makan-makan di situ adalah haram dan termasuk dari adat/kebiasaan jahiliyyah.
Oleh karena itu, agar supaya para pembaca yang terhormat mengetahui atas dasar ilmu dan hujjah yang kuat, maka di bawah ini saya turunkan sejumlah fatwa para Ulama Islam dan Ijma’ mereka dalam masalah “selamatan kematian”.

APA KATA IMAM AS-SYAFI’I dan IMAM YANG LAINNYA?

  1. Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah (wafat th. 204 H), seorang Imam mazhab yang diikuti oleh mayoritas orang Indonesia dan sekitarnya, beliau rahimahullah menjelaskan di kitabnya ‘Al-Umm” (2/638).

وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ فَإِنَّ ذَلِكَ يُجَدِّدُ الْحُزْنَ، وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ مَعَ مَا مَضَى فِيهِ مِنْ الْأَثَرِ

“Aku benci al-ma’tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, namun sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan (yang dirasakan ahli mayit) dan membebani kesulitan dengan apa yang telah berlalu dari efek kesedihan tersebut”
Berkumpul-kumpul dirumah keluarga ahli mayit tidak disukai oleh Imam as-Syafi’i rahimahullah. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau disertai ritual Tahlilan ? Dan apakah orang yang melakukan tahlilan bahkan mengaku bermadzhab Syafi’I mengetahui Imam Madzhabnya tidak menyukai apa yang mereka lakukan ?

  1. Imam Ibnu Qudamah rahimahullah (wafat th. 620 H) adalah seorang imam besar di dalam Madzhab Hambali (Imam Ahmad bin Hanbal) menjelaskan pula di kitabnya Al Mughni
    فَأَمَّا صُنْعُ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا لِلنَّاسِ، فَمَكْرُوهٌ؛ لِأَنَّ فِيهِ زِيَادَةً عَلَى مُصِيبَتِهِمْ، وَشُغْلًا لَهُمْ إلَى شُغْلِهِمْ، وَتَشَبُّهًا بِصُنْعِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ

“Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci. Karena akan menambah kesusahan diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka lebih dari kesibukan mereka (dalam menghadapi kedukaan ditinggal oleh sang mayyit) dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah.”
Kemudian beliau rahimahullah melanjutkan penjelasannya dengan:
وَرُوِيَ أَنَّ جَرِيرًا وَفَدَ عَلَى عُمَرَ، فَقَالَ: هَلْ يُنَاحُ عَلَى مَيِّتِكُمْ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: فَهَلْ يَجْتَمِعُونَ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ، وَيَجْعَلُونَ الطَّعَامَ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ذَاكَ النَّوْحُ.

Dan telah diriwayatkan bahwasannya Jarir pernah bertamu kepada Umar radhiallahu’anhu. Lalu Umar radhiallahu’anhu bertanya, “Apakah mayit kalian diratapi ?” Jawab Jarir, ” Tidak !” Umar bertanya lagi, ” Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab Jarir, ” Ya !” Berkata Umar, ” Itulah ratapan !”

  1. Al Imam An Nawawi rahimahullah (wafat 676 H), dikitabnya Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab telah menjelaskan tentang bid’ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan dirumah ahli mayit dengan membawakan perkataan penulis kitab Asy –Syaamil

إصْلَاحُ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا وَجَمْعُ النَّاسِ عَلَيْهِ فَلَمْ يُنْقَلْ فيه شئ وَهُوَ بِدْعَةٌ غَيْرُ مُسْتَحَبَّةٍ هَذَا كَلَامُ صَاحِبِ الشَّامِلِ وَيُسْتَدَلُّ لِهَذَا بِحَدِيثِ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ” كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنْ النِّيَاحَةِ

Ahli mayyit repot membuat makanan dan mengumpulkan orang-orang dirumah duka (untuk melakukan ritual doa bagi mayyit) maka tidak pernah ada keterangan sama sekali dan itu termasuk perbuatan bid’ah yang tidak disukai dan ini adalah perkataan Shohibul Syaamil dan beliau berdalil dengan dengan hadits Jabir bin Abdillah, Kami (yakni para shahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut madzhab kami para shahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap” (HR. Ahmad no. 6905, Ibnu Majah no. 1612, shohih, lihat Shohih Ibni Majah 4/112).

  1. Al Imam Abu Ishaq Asy Syairoziy rahimahullah (wafat th. 476 H) dalam dikitabnya Al-Muhadzdzab Fi Fiqhil Imam as-Syafi’i yang kemudian disyarahkan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah dengan nama Al Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab dan kitab ini adalah termasuk kitab yang penting dalam madzhab as-Syafi’i (madzhab mayoritas di Indonesia dan sekitarnya.) :

وَيُكْرَهُ الجُلُوْسُ لِلتَّعْزِيَةِ لأَنَّ ذَلِكَ مُحْدَثٌ وَالْمُحْدَثُ بِدْعَةٌ

“Tidak disukai /dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit) dengan alasan untuk Ta’ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats (perkara baru dalam agama yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alahi wasallam dan para salafus sholih) sedangkan muhdats adalah ” Bid’ah “.

  1. Ibnu Taimiyah rahimahullah (wafat th. 728 H) berkata:
    وَأَمَّا صَنْعَةُ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا يَدْعُونَ النَّاسَ إلَيْهِ فَهَذَا غَيْرُ مَشْرُوعٍ وَإِنَّمَا هُوَ بِدْعَةٌ

“Adapun jika keluarga mayit yang membuatkan makanan dan mengundang jama’ah untuk datang, seperti ini tidak ada tuntunan dan termasuk bid’ah.” (Majmu’ Al Fatawa, 24: 316).

  1. Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat th. 751 H), di kitabnya Zaadul Ma’aad Fi Hadyi Khoiril ‘Ibaad menegaskan bahwa:
    وَلَمْ يَكُنْ مِنْ هَدْيِهِ أَنْ يَجْتَمِعَ لِلْعَزَاءِ، وَيَقْرَأَ لَهُ الْقُرْآنَ، لَا عِنْدَ قَبْرِهِ وَلَا غَيْرِهِ، وَكُلُّ هَذَا بِدْعَةٌ حَادِثَةٌ مَكْرُوهَةٌ.

Bukan termasuk tuntunan Nabi Shallallahu’alahi wasallam melakukan kumpul-kumpul (dirumah ahli mayit) dengan alasan untuk ta’ziyah dan membacakan al-Qur’an bagi mayit dan tidak pula dikuburannya atau di tempat lainnya, ini semua adalah termasuk perkara Bid’ah lagi dibenci. (tidak ada tuntunannya dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam).

  1. Al Imam Asy Syaukani rahimahullah (wafat th. 1250 H ), dikitabnya Nailul Authar Min Asrar Muntaqa al-Akhbaar menegaskan bahwa hal tersebut Menyalahi Sunnah.

قَوْلُهُ: (كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ. . . إلَخْ) يَعْنِي أَنَّهُمْ كَانُوا يَعُدُّونَ الِاجْتِمَاعَ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ بَعْدَ دَفْنِهِ، وَأَكْلَ الطَّعَامِ عَنْدَهُمْ نَوْعًا مِنْ النِّيَاحَةِ لِمَا فِي ذَلِكَ مِنْ التَّثْقِيلِ عَلَيْهِمْ وَشَغْلِهِمْ مَعَ مَا هُمْ فِيهِ مِنْ شُغْلَةِ الْخَاطِرِ بِمَوْتِ الْمَيِّتِ وَمَا فِيهِ مِنْ مُخَالِفَةِ السُّنَّةِ؛ لِأَنَّهُمْ مَأْمُورُونَ بِأَنْ يَصْنَعُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا فَخَالَفُوا ذَلِكَ وَكَلَّفُوهُمْ صَنْعَةَ الطَّعَامِ لِغَيْرِهِمْ

Sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, ” bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit …dan seterusnya) yaitu para shahabat berkumpul di tempat ahli mayit setelah dikuburkannya sang mayit, dan makan dari makanan apa saja dari ahli mayit termasuk perbuatan meratap karena hal itu mengandung pembebanan kepada ahli mayit padahal mereka masih sibuk (berduka) dalam menghadapi kematian sang mayit dan itu semua termasuk perbuatan yang menyelisih Sunnah Nabi Shallallahu’alahi wasallam, karena mereka (yang bukan ahli mayit) itu diperintahkan untuk membuat makanan kepada ahli mayit yang ditinggalkan dan mereka menyelisihinya dengan membebani ahli mayit untuk membuat makanan kepada selainnya (yaitu kepada para pengunjung ta’ziyah).

  1. Telah berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna as-Sa’aaty rahimahullah (wafat th. 1378 H), di kitabnya Al-Fathu Ar-rabbani Li Tartib musnad Imam Ahmad bin Hambal :

)وَاتَّفَقَ الأَئِمَةُ الأَرْبَعَةُ) عَلَى كَرَاهَةِ صَنْعِ أَهْلِ الـمَيتِ طَعَامًا لِلنَّاسِ يَجْتَمِعُوْنَ عَلَيْهِ مُسْتَدِلِيْنَ بِحَدِيثِ جَرِير بْنِ عَبْدِ اللهِ الـمَذْكُوْرِ فيِ البَابِ وَظَاهِرُهُ التَّحْرِيمُ، لِأَنَّ النِّيَاحَةَ حَرَامٌ، وَقَدْ عَدَّهُ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ مِنَ النِّيَاحَةِ فَهُوَ حَرَامٌ

“Telah sepakat Imam madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad rahimahumullah) atas tidak disukainya ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah radhiallahu’anhu. Dan dzahir hukumnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para Shahabat telah memasukkannya (yakni berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram.

Kemudian Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna di akhir syarahnya atas hadits Jarir menegaskan :

فَمَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ الآنَ مِنَ الاِجْتِماَعِ لِلتَّعْزِيَةِ وَذَبْحِ الذَبَائِح وَتَهْيِئَةِ الطَّعَامِ وَنَصْبِ الخِياَمِ وَالقُمَاشِ الـمُزَخْرَفِ بِالأَلْواَنِ وَفَرْشِ البَسطِ وَغَيْرِهَا وَصَرْفِ الأَمْوَالِ الطَائِلَةِ فِي هَذِهِ الأُمُورِ الْمُبْتَدِعَةِ الَّتِي لاَ يُقْصَدُوْنَ بِهَا إِلاَّ التَّفَاخُرَ وَالرِّيَاءَ لِيَقُوْلَ النَّاسُ فُلاَنٌ فَعَلَ كَذَا وَكَذَا وَأَنْفَقَ كَذَا وَكَذَا فِي مَأْتَمِ أَبِيْهِ مَثَلاً، كُلُّهُ حَرَامٌ مُخَالِفٌ لِهَدْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَدْيِ السّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ؛ وَلَمْ يَقُلْ بِهِ أَحَدٌ مِنْ أَئِمَّةِ الدِّيْنِ، نَسْأَلُ اللهَ السَّلاَمَةَ

“Maka, apa yang biasa dikerjakan oleh kebanyakan orang sekarang ini yaitu berkumpul-kumpul (di tempat ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan mengadakan penyembelihan, menyediakan makanan, memasang tenda dan permadani dan Pernik lain-lain termasuk pemborosan harta yang banyak dalam seluruh urusan yang bid’ah ini dimana mereka tidak maksudkan kecuali untuk bermegah-megah dan pamer supaya orang-orang memujinya bahwa si fulan telah mengerjakan ini dan itu dan menginfakkan hartanya untuk berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit bapak-nya. Semuanya itu adalah HARAM menyalahi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Salafush shalih dari para shahabat dan tabi’in dan tidak pernah diucapkan oleh seorangpun juga dari Imam-imam Agama (kita). Kita memohon kepada Allah keselamatan !”

  1. Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah (wafat th. 1421 H) menjelaskan dalam kitabnya Asy-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaad al-Mustaqni’ 5/376 :

غَلاَ بَعْضُ النَّاسِ فِي هَذِهِ الـمَـسْأَلَةِ غُلُواً عَظِيْماً لاَ سِيَمَا فِي أَطْرَافِ البِلاَدِ، حَتَّى إنَّهُمْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ يُرْسلُوْنَ الهَدَايَا مِنَ الخِرْفَانِ الكَثِيْرَةِ لِأَهْلِ المَيِّتِ، ثُمَّ إِنَّ أَهْلَ المَيِّتِ يَطْبُخُوْنَهَا لِلنَّاسِ، وَيَدْعُوْنَ النَّاسَ إِلَيْهَا فَتَجِدُ البَيْتَ الَّذِي أُصِيْبَ أَهْلُهُ كَأَنَّهُ بَيْتُ عَرْسٍ، فَيُضِيْئُوْنَ فِي اللَّيْلِ المَصَابِيْح الكَثِيْرَة، وَيَصْنَعُونَ الكَرَاسِيَ المُتَعَدِدَةَ، وَقَدْ شَاهِدْتُ ذَلِكَ بِنَفْسِي.

Sebagian orang dalam masalah ta’ziyah itu sangat berlebihan bahkan terlebih ini juga terjadi di berbagai negara lain, bahkan jika ada yang meninggal maka dikirimkan hadiah berupa banyak kambing untuk keluarga ahli mayit, kemudian ahli mayit memasak masakan untuk orang (penziarah) dan ahli mayit mengundang banyak orang untuk menghadiri dan menyantap makanan yang telah disiapkannya maka akan didapati rumah ahli mayit berubah menjadi rumah layaknya rumah pelaminan. Pada malam hari rumahnya diterangi dengan banyak lampu dan mereka pun telah menata kursi yang dengan berbagai macam ragam, dan kejadian tersebut aku telah menyaksikannya sendiri.

وَهَذَا لاَ شَكَّ أَنَّهُ مِنَ البِدَعِ المُنْكَرَةِ، فَهَلْ نَحْنُ مَأْمُوْرُوْنَ عِنْدَ المَصَائِبِ أَنْ نَأْتِيَ بِالـمـسَلِيَاتِ الحِسِيَّةِ الَّتِي تخْتَم عَلَى القَلْبِ حَتّى نَنْسَى المُصِيْبَةَ نِسْيَانَ البَهَائِمِ؟! نَحْنُ مَأْمُوْرُون بِأَنْ نَتَسَلَّى بِمَا أَرْشَدَنَا اللهُ إِلَيْهِ: «إِنَّا لِـلَّهِ وَإِناَّ إلَيْهِ رَاجِعُوْنَ» .

Maka tidak diragukan lagi bahwa yang demikian tersebut adalah termasuk perbuatan bid’ah yang (wajib) diingkari. Apakah ketika ditimpa musibah kita diperintahkan untuk mengadakan acara hiburan yang dapat menyebabkan hati kita lupa dengan kesedihan tersebut seperti lupanya dunia binatang? Kita diperintahkan untuk menghibur diri dengan apa yang Allah tunjukkan kepada kita yaitu perkataan,
Inna lillah wainna ilaihi raaji’un (sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kita kan kembali)(selesai nukilan Syaikh rahimahullah.)

KESIMPULAN:

  1. Bahwa berkumpul-kumpul ditempat ahli mayit hukumnya adalah BID’AH dengan kesepakatan para Shahabat dan seluruh imam dan ulama’ termasuk didalamnya imam empat.
  2. Akan bertambah bid’ahnya apabila ahli mayit membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.
  3. Akan lebih bertambah lagi bid’ahnya apabila disitu diadakan tahlilan pada hari pertama dan seterusnya.
  4. Perbuatan yang mulia dan terpuji menurut SUNNAH NABI Shallallahu ‘alaihi wa sallam kaum kerabat /sanak famili dan para jiran/tetangga memberikan makanan untuk ahli mayit yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka untuk mereka makan sehari semalam. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Ja’far bin Abi Thalib wafat.

Hadits yang mulia:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ، قَالَ: لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا، فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ، أَوْ أَمْرٌ يَشْغَلُهُمْ

Dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, dia berkata, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar berita kematian Ja’far bin Abi Thalib, beliau mengatakan, “Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far ! Karena sesungguhnya telah datang kepada mereka apa yang menyibukakan mereka (yakni musibah kematian).” [HR. Asy Syafi’i dalam musnadnya I/216 no. 602, Abu Dawud no. 1026, at-Tirmidzi, Ibnu Majah no. 1610 dan Ahmad no. 1751, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shohih Al-Jami’us Shoghiir no. 1015]

🖊Abu Usaid Zaki Rakhmawan hafizhahullah

COMMENTS