FAWAID PEMBUKAAN DAURAH SYAR’IYYAH ke 5 di SOLO

بسم الله الرحمن الرحيم

FAWAID PEMBUKAAN DAURAH SYAR’IYYAH ke 5 di SOLO
Syaikh Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily hafizhahullah membuka dengan pujian kepada Allah dan sholawat, kemudian memberikan nasehat bahwa:
Bersyukurlah kepada Allah atas nikmat yang besar ini dengan berkumpulnya kita disini, seandainya bukan karena taufiq dari Allah maka tidaklah bisa kita bertemu di sini untuk melakukan daurah ini. Semoga daurah ini dapat mengandung barokah dan kemanfaatan. Ini adalah Daurah yang ke-5 yang diadakan oleh Mahad al-Bukhori yang dipimpin oleh al-Ustadz Ahmas Faiz hafizhullah dimana ini adalah perjuangan yang besar dan semoga diberikan barokah. Ma’had ini telah memberikan andil kontribusi yang besar dalam tersebarnya ilmu syar’i dan semoga akan senantiasa diberikan barokah. Dan semoga para pengurus Mahad dan panitia daurah senantiasa diberikan kebarokahan. Begitupula kalian wahai para peserta daurah – para asatidz yang telah mengorbankan waktu dan harta untuk dapat mengikuti daurah ini.
 Semoga Allah senantiasa melanggengkan nikmat menuntut ilmu ini kepada kita dan kita diwafatkan diatas jalan dakwah menyeru manusia kepada Allah – mentauhidkan-Nya. 
sebagaimana firman Allah Ta’ala: 
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, (QS. An-Nahl: 36)
Dimana para rasul diutus untuk menyeru manusia agar bertauhid mengesakan-Nya dengan  tunduk dan patuh hanya kepada Allah  serta menjauhkan mereka dari syirik. Dan semoga kita senantiasa berada diatas jalan tersebut. Sungguh kita telah diberikan kebaikan yang besar, maka bagi orang yang telah mengerti dan dianugerahi nikmat untuk tidak bermalas-malasan dalam berdakwah di jalan Allah. Dia  harus bersungguh-sungguh dalam berdakwah hanya untuk mengharap ridho Allah semata sampai diwafatkan dalam keadaan tersebut. Pekerjaan dakwah ini bukanlah ditujukkan untuk mencari kekuasaan ataupun perdagangan namun Dakwah ini diperuntukkan untuk mencari ridho-Nya. Maka barangsiapa yang senantiasa berdakwah dengan dakwah tauhid maka dia berada dalam kebaikan yang sangat besar. 
Dalam dakwah tersebut dibutuhkan dua hal yaitu:
1. Ikhlas karena Allah dalam beramal sholih
2. Mutaba’ah mengikuti petunjuk dari Nabi ﷺ
Semoga Allah senantiasa memberikan kebarokahan kepada kalian, mengangkat derajat kalian, 
Usaha besar dari Mahad Imam al-Bukhori dimana telah memberikan kemudahan untuk setiap tahunnya. Inilah yang memberikan motivasi kepada ku (Syaikh hafizhahullah) untuk datang ke daurah ini, karena yang aku ajari bukanlah asatidz yang baru menuntut ilmu maupun orang awam, namun orang yang telah diberikan pemahaman dan keutamaan ilmu sebagai dai-dai yang besaar. Sekiranya ada dua orang yang saling mengingatkan tentang pentingnya berdakwah menyeru orang untuk bertauhid adalah sesuatu yang sangat penting maka bagaimana sekiranya itu melibatkan banyak orang seperti yang ada di daurah ini. Dalam waktu yang terbatas kita akan belajar dan setelah selesai kalian pun akan kembali untuk berdakwah di daerahnya masing-masing. 
Dalam daurah ini, tidak ada yang baru dari apa yang aku sampaikan kecuali hanya tadzkir (pengingat) tentang permasalahan yang harus difahami oleh para dai dan penuntut ilmu, beberapa permasalahan itu adalah:
1. Harus mempertimbangan apa yang bermanfaat dengan berkumpulnya kita, bukan hanya dengan memahami tentang, pentingnya aqidah, adab-adab menuntut ilmu, dan ibadah-ibadah lainnya namun disini dibutuhkan pengingat bahwa berkumpulnya kita disini ada beberapa target yang harus dicapai.
Dalam dakwah kita diatas manhaj salaf, kita kurang dalam meluruskan jalan dakwah kita, kita kurang dalam mengatur keharmonisan dakwah, kurang dalam mengulang-ngulang pembelajaran kitab. 
2. Kita butuh pembelajaran bagi dai yang bisa menjadi panutan dalam memperbaiki permasalahan yang ada di sekitarnya, mengetahui permasalahan kontemporer yang terjadi sehingga dapat memberikan penerangan kepada orang yang membutuhkan, dapat mengaplikasikan dakwah berdasarkan manhaj salaf sebagaimana yang telah ditempuh oleh para ulama sholih kita yang terdahulu. Setiap orang dari ulama salaf adalah panutan maka dakwah mereka berhasil dan berkembang pesat, maka kita pun harus menyiapkan dai-dai yang dapat bertindak sebagai panutan bagi orang-orang yang didakwahinya.
Ini adalah tadzkir, kita kurang dalam mempelajari aturan dalam menuntut ilmu dan memahami  masalah 
Kita butuh ulama yang faham dalam bertindak menyelesaikan permasalahan umat. Sebagaimana ulama terdahulu faqih dalam berbagai masalah. Dimana mereka berada dalam ilmu rasyikh sedangkan zaman sekarang  ada cacat pada ulama belakangan yaitu kekurangan dalam masalah faham agama.
 Kita dapati orang-orang yang mempunyai ijazah yang tinggi namun tapi tidak mengetahui tentang bagaimana berinteraksi dengan orang-orang kafir, bagaimana berinteraksi dengan orang yang berbeda pemahamannya dengan kita seperti berinteraksi dengan ahli bid’ah. Interaksi yang didasarkan kepada dalil-dalil al-Quran dan as-Sunnah tanpa dikurangi-kurangi maupun ditambah-tambahi dengan yang tidak perlu. Bagaimana berinteraksi dengan berbagai perbedaan pendapat yang terkadang terjadi pada sebagian kita, sebagian para ulama kita (ulama ahlus Sunnah wal jama’ah) dan bagaimana kita keluar dari fitnah perbedaan tersebut. 
Aku (Syaikh hafizhahullah) membicarakan ini berdasarkan pengalaman dakwahku selama ini, semenjak aku mulai mengajar di Universitas Madinah banyak muridku berdatangan dari berbagai negara baik ketika Ramadhan ataupun ketika umroh dan haji, mereka menceritakan tentang apa yang menjadi problematika dakwah mereka. Kita dapati fenomena yang terjadi di beberapa negara Islam terkadang dilarang berceramah diatas mimbar, masjid ditutup, yayasan diblokir dan ini yang akhirnya para ahli bid’ah merasa telah menang dan terkadang yang disudutkan adalah orang-orang yang bermanhaj salaf.
Ini kembali dengan dua masalah yaitu:
1. قِلَّةُ الفِقْهِ 
Kurangnya pemahaman agama
2.  قِلَّةُ الوَرَعِ
Kurangnya wara’ dalam dakwah
Kita menginginkan problematika itu bisa diatas dengan melengkapi apa yang kurang dari dua masalah tersebut. Yaitu dengan memperdalam pembelajaran ilmu syar’I, dan menegaskan lagi dakwah salaf ini dengan dengan hikmah serta tidak membiarkan para pengusung perpecahan umat mempermainkan dakwah ini dengan tipu daya mereka.
Wahai saudaraku, Sebagaimana yang telah kalian ketahui dan fahami, aqidah ini adalah amanah sebagaimana Nabi ﷺ melakukan perjuangannya, diusir dari negerinya bahkan ditawari dengan kekayaan dunia untuk meninggalkan aqidah ini beliau ﷺ enggan untuk meninggalkannya. Nabi ﷺ pecah gigi serinya dalam berjuang di jalan Allah, bahkan berkali-kali diancam dengan pembunuhan.
Lihatlah bagaimana semangat para sahabat mengambil pemahaman dari Rasulullah ﷺ , mereka menolong dakwah ini, berkorban untuk menegakkan aqidah ini.
Bahkan ada ulama yang mencari satu hadits harus berjalan berhari-hari, menulis kitab tanpa ada mesin namun dengan tinta, menulis kan setetes kemudian melanjutkan dengan tetesan tinta yang lainnya dengan perjuangan setiap tulisannya, menukilkan ilmu kepada kita sampai kita bisa memahaminya.
Ini adalah kedudukan yang sangat mulia. Allah memberikan nikmat kepada kita bahwa kita berada dalam jalan yang telah ditempuh oleh para Nabi. 
Tidak boleh mencari-cari jalan untuk memojokkan aqidah ini, atau bahkan bermain-main untuk kepentingan kelompok, bahkan kesenangan dunia dengan menjual dakwah ini.
Bahkan ada orang yang berusaha memecah belah umat kita dengan berbagai macam cara namun kita tidak akan membiarkan itu terjadi maka kita harus bisa menjadi contoh dan panutan dengan ilmu dan dakwah. Bukan dengan menjadi pemimpin pasukan karena itu adalah urusan pemerintahan, namun dengan ilmu dan hikmah dalam dakwah.
Ini membutuhkan detail pemahaman, banyak membaca :
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Barangsiapa yang Allah berikan kebaikan maka Allah akan memberikan kepadanya kefahaman dalam agama. (HR. Al-Bukhori no. 71 dan Muslim no. 1037)
الفِقْهُ فيِ الدِينِ هُوَ فِقْهٌ بِأَحْكَامِ المُطْلَقَةِ الشَّرْعِيَّةِ 
Pemahaman dalam agama adalah pemahaman tentang hukum Islam secara umum (tidak terikat dengan pembatasan tertentu) sesuai dengan syariat al-Quran dan as-Sunnah
Fiqih (pemahaman) dalam agama ada dua:
1. 
الفِقْهُ بِمَا شَرَعَ اللهُ ليُعْمَلَ بِهِ
Fiqih dengan apa yang telah Allah syariatkan untuk diamalkan dengannya 
2. 
الفِقْهُ بِمَا مَنَعَ اللهُ مِنْهُ وَ نَهَى عَنْهُ  لِيُحْذَرَ بِهِ 
Fiqih dengan apa yang telah Allah cegah dan larang darinya agar menjadi kehati-hatian dengannya.
Atau bisa dikatakan 
فِقْهٌ بالتَّوْحِيْدِ والسُّنَةِ لِلْعَمَلِ بِهِمَا
Fiqih tentang Tauhid dan as-Sunnah agar dapat diamalkan keduanya.
Dan
فِقْهٌ بالشِّرْكِ وَالبِدَعِ لِلحَذَرِ مِنْهُمَا
Fiqih yang dengan syirik dan bidah agar umat dapat dijauhkan dari dari keduanya.
Sepantasnya bagi para dai untuk membaca dan mempelajari ilmu dengan seksama bukan hanya sekedar belajar sepintas saja. Bukan pula seperti belajarnya orang awam yang hanya sepintas. Jadilah orang yang faqih terhadap satu ayat dengan tafsirnya, pemahamannya, mentadaburinya dan faidah-faidah yang terkandung darinya. Mendalami hadits dengan seksama dan jeli. 
Bukanlah dakwah salaf hanya dakwah secara chasingnya saja artinya yang Nampak di luarnya saja namun harus mempelajari agama ini dengan detail. Ketika ditanya tentang suatu permasalahan maka jelaskanlah dengan dalil ilmiyah – inilah dalilnya. Pelajarilah tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyyah dan Tauhid asma wa shifat dengan detail karena banyak bantahan dari orang-orang filsafat yang berkaitan dengan tauhid tersebut. Jelaskan kepada orang awam tentan dalil-dalilnya serta tentang kenapa itu dibagi menjadi tiga yaitu berdasarkan istiqro’ (penjabaran dari dalil-dalil dari al-Quran dan as-Sunnah) ini harus difahami dengan detail.
Orang sufi, orang filsafat dan orang musyrik mempunyai kerancuan yang menyerang pemahaman tentang tauhid Rububiyah maka seharusnya kita dapat mempelajarinya dengan detail. Tidak cukup menukilkan ini dengan perkataan Ibnul Qoyyim, Ibnu Taimiyyah, Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Abu Hanifah serta lainnya, namun hendaknya dia faham dengan dalil syar’i. Tidak membantah dengan perkataan kepada perkataan ulama namun harus dengan dalil syar’i.
Kita punya kekurangan yang besar terkadang orang yang punya ijazah yang tinggi tentang aqidah, tafsir, fiqih, namun bodoh (kurang faham) terhadap dalil dan istidlalnya. Bahkan mereka memecah belah umat dengan ilmu mereka. Kita harus mengenal syubhat-syubhat para perancu aqidah dan dapat menjelaskannya dengan ilmiyah kepada umat.
Orang sekarang tidak cukup menjawab fitnah dengan perkataan Ibnu Taimiyyah. Karena anak-anak sekarang tidak mengenalnya namun hendaknya diberikan dalil ilmiyah untuk menjawab fitnah tersebut.
Kita beradu argument dengan dalil dari Al-Quran dan as-Sunnah yang harus disertai dengan kelembutan.
Ada orang yang mengkafirkan pemerintah – bahkan ada orang afrika yang mengkafirkan seluruh orang afrika, tidak mau menerima dalil sama sekali. Ini karena syubhat. Maka kita harus bisa meluruskan syubhat tersebut dengan ilmu dan hikmah.
Syaikh hafizhahullah bercerita bahwa ada orang yang memeluk kepala Syaikh di masjid Nabawi, dan dikatakan beliau bahwa aku adalah fulan yang dulu pernah melakukan kesalahan dan dipenjara kemudian aku menjadi faham dengan pemahaman yang telah engkau jelaskan kepadaku.
Bid’ah hakikat dan Bid’ah idhofiyah (tambahan) bagaimana menjelaskan dua bid’ah tersebut kepada umat maka itu perlu ilmu lebih detail.
 Bahkan Syaikh hafizhullah menjelaskan terkadang beradu argument dengan ilmu harus dengan kesabaran karena terkadang sekali tidak cukup. Perlu diulang sampai dia bisa rujuk kepada pemikiran yang lurus. Ini seperti thobib, harus jeli dan sabar dalam memberikan analisa pengobatan.
Fiqih Yang paling sulit adalah berfatwa- 
Karena didalamnya terkandung kesulitan yang tinggi. “Apa hukumnya ini secara syariat Islam?”
Tidak boleh orang berfatwa dengan perkataan, “Ini yang aku katakan, menurut pemikiranku.” Sebagaimana yang dikatakan oleh Shabigh (ketika ditanya oleh Umar bin Al Khothob radhiallahu’anhu)– “Aku katakan ini menurut pemikiranku”
Bersambung
Semoga bermanfaat
🍫 Ustadz Zaki Rakhmawan Abu Kayyisa Hafidzahullah

COMMENTS