Hadits 15 Arbain An Nawawi: TAMU SECARA SYAR’I

#Syaikh_Sholih_bin Abdillah bin Hamd Al Ushoimy telah memberikan izin “لا بأس به” untuk ana nerjemahin Fawaid kajian beliau hafizhahullah. (Alhamdulillah-legal)

Secuil Fawaid yang berserakan dari Daurah Muhimmatil Ilmi 1441 H.

Dari kitab Muqorrorot Barnamij Muhimattil ilmi jilid 1 Hal 827
Berikut ini Fawaid dari Daurah Muhimmatil Ilmi hari ini tentang Kitab Arbain Nawawi

TAMU SECARA SYAR’I

Hadits 15 Arbain An Nawawi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. [رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.
(HR. Al-Bukhari no 6018 dan Muslim no 47)

Syaikh Sholih bin Abdullah bin Hamd Al Ushoimy hafizhahullah menjelaskan:

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim. Hadits ini termasuk yang disepakati oleh keduanya (Imam al-Bukhori dan Muslim). Dari Hadits Abu Hurairah lafazh nya adalah Fala yu’dzi jaarahu فلا يؤذ جاره (maka jangan ganggu tetangganya) sedangkan dari riwayatkan Shohih Muslim secara menyendiri adalah lafazh فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ.

Nabi Shallallahu’alaihi wassalam menyebutkan didalam hadits ini adalah tiga karakter iman yang berkaitan dengan kesempurnaan iman yang wajib, yaitu:

karakter yang pertama:
قول الخير أو الصمت
perkataan baik atau diam

karakter yang kedua:
إكرام الجار
memuliakan tetangga

karakter yang ketiga:
إكرام الضيف
memuliakan tamu

Karakter yang pertama berhubungan dengan hak Allah dan dua karakter yang kedua dan ketiga berhubungan dengan hak orang lain.
Dan yang diperintahkan dari karakter yang pertama adalah untuk berbuat baik atau diam. Sedangkan yang ada pada karakter kedua dan ketiga adalah memuliakan tetangga dan tamu.

Tidak ada dalam memuliakan tamu dan tetangga norma batasan tertentu. Apa saja yang disitu masuk ke dalam pengertian memuliakan secara adat yang berlaku setempat maka itu adalah diperintahkan secara syar’i.

Batasan definisi tetangga itu harus dekat dengan tempat tinggal maka tidak ada satupun hadits yang shohih. Asumsi yang seharusnya dikembalikan batasannya tersebut kepada adat yang berlaku di daerah setempat.

Makna dari الضيف ad-dzoif adalah setiap orang yang bertujuan untuk mengunjungimu yang berasal dari luar negerimu (luar kota). Dari definisi tersebut berkumpul 2 sifat:

  1. Hendaknya itu berasal dari luar negerimu (luar daerahmu) sedangkan kalau yang berasal dari daerahmu atau kotamu itu maka disebut (Zaa-iran) – penziarah.
  2. Hendaknya kunjungan tersebut hanya untuk mengunjungimu saja. Tujuannya adalah daerahmu saja bukan selainnya.
    dan apabila itu berkumpul dua sifat tersebut maka dia adalah dhoif (Tamu) yang harus wajib dipenuhi haknya dan tidak boleh ditelantarkan.

Contohnya adalah: Seandainya ada yang mukim di Madinah dan dia sedang berada di rumahnya terus datang seorang dari saudaranya yang menelpon dia atau mengetuk pintunya dan dia berkata, “Aku ada di depan pintu datang dari Riyadh.” Maka memasukkan saudara itu ke rumah adalah suatu kewajiban. Tidak boleh untuk mengatakan, “Aku sibuk, datanglah kesini di waktu lainnya” karena dia adalah tamu secara definisi syar’i maka wajib untuk menunaikan haknya secara syar’i.

Namun seandainya datang kepadamu seseorang dari tetanggamu atau saudaramu yang tinggal di daerah yang sama, lalu dia menelponmu atau minta izin kepadamu di depan pintu dan dia berkata, “Aku ingin duduk bersamamu” maka boleh engkau menolaknya manakalah engkau dalam keadaan sibuk, karena dia bukanlah dihukumi sebagai tamu secara syar’i.

Ya Allah berikanlah aku kemudahan dalam menuntut ilmu dan Ikhwan sekalian karena sesungguhnya Engkaulah yang memberikan ilmu dan yang memudahkannya.

Ditulis oleh Abu Usaid Zaki Rakhmawan
Yang masih berjuang tertatih mengumpulkan Fawaid yang berserakan karena lemah, terhuyung Uhuk Uhuk dan bapernya masih bertengger mencengkeram.
Only admins

COMMENTS