Ini adalah nasehat buat kita semua: NEK BODO OKEH KANCANE, NEK SEMANGAT ITU PILIHAN ORANG

Ini adalah nasehat buat kita semua:
NEK BODO OKEH KANCANE
NEK SEMANGAT ITU PILIHAN ORANG

ini adalah ucapan dari salah satu Ikhwan yang paling senior umurnya 72 tahun, beliau bernama Pak Buang Hafizhahullah.

ولا أزكي على الله أحدا
Beliau hafizhahullah senantiasa datang di kajian di kota magelang, sudah 3 tahun lebih saya mengenal Pak Buang sebagai seorang penuntut ilmu yang sangat bersemangat dalam menghadiri kajian ilmu.

Kalau jadwal kajian kitab dimulai pukul 16.30, beliau sudah berada di masjid semenjak jam 16.00 sambil murojaah kajian yang sebelumnya, seperti murojaah dengan buku catatan kecilnya seputar wafiyaat ulama – tahun meninggalnya ulama -, urutan surat al-Qur’an dan fawaid lainnya.

Gigih, sabar dan semangat itu kata yang ada dibenak sesama Ikhwan yang hadir di kajian ilmu.

ولا أزكي على الله أحدا
Bahkan hujan pun tidak menyurutkan semangat beliau hafizhahullah. Pernah kajian sabtu di Masjid Baitus Salam membahas kitab Mandzumah al-Baiquniyah – Mushtholah Hadits dari jam 16.30 – Isya dan itu dalam keadaan hujan, beliau tetap datang tanpa terlambat. Ketika sudah selesai sholat Isya, saya menghampiri beliau hafizhahullah, “Pak Buang, berkenan ikut kajian Syarah al-Aqidah al-Wasithiyah di warung Mujarab atau tidak – sampai jam 9-an malam.” Kemudian dengan sergap beliau menjawab, “Sebentar mo nelpon istri saya dulu untuk meminta izin karena tadi dipesan untuk segera pulang,” kemudian setelah beberapa menit beliau mengatakan, “Nggih, saya inSya Allah ikut, tadi istri sudah saya bilangin dan saya dibolehkan untuk ikut kajian.” Lalu saya jawab, “Monggo Pak Buang, nderek kulo mawon (ikut saya saja), nanti balik lagi ke masjid, saya antar pulangnya.” Beliau hafizhahullah menjawab, “Mboten sah (tidak usah), saya masih kuat, yang penting semangatnya. Mboten nopo-nopo (tidak apa-apa).”

Begitupun sudah pernah beberapa kali beliau hafizhahullah terlambat untuk ikut kajian, udzurnya tidak lain adalah kebanan di jalan (bannya bocor di jalan) tapi tetap saja beliau menghadiri kajian meskipun terlambat.

Saya pernah berkata kepada Pak Buang hafizhahullah, “Semoga kecintaan Allah akan terus tercurah kepada Pak Buang, karena istiqomahnya Pak Buang menghadiri kajian ilmu syar’i adalah bukti kecintaan Allah kepada Pak Buang.” Setelah itu beliau hafizhahullah, merembes air matanya, air mata Bahagia dan haru.
Benarlah apa yang Rasulullah ﷺ sabdakan:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُّ فِي الدِّيْنِ
Barangsiapa Allah kehendaki baginya kebaikan (maka) Allah fahamkan dia dalam agamanya. (Shohih, HR. Al-Bukhori no. 71, At-Tirmidzi no. 2645, Ahmad no. 2790, begitu juga Ibnu Hibban dalam shohihnya no. 89, dari Shahabat Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan Mu’awiyah radhiallahu’anhum Lihat Silsilah Ahaadits as-Shohihah no. 1194)

Kata “مَنْ” barangsiapa disini tidak mengenal usia, kedudukan, pangkat, jabatan, gelar, gender, suku, kulit namun dia siapapun yang Allah kehendaki. Semoga kita termasuk yang Allah kehendaki untuk menjadi faham terhadap agama Islam ini.

Begitu pula kebaikan, disebutkan sebagai ” خَيْرًا “ nakirah, tidak ditentukan kebaikannya karena mencakup kebaikan yang sedikit dan banyak, begitupun bentuk nakirah yang seperti ini bermakna sebagai bentuk pengagungan.

Dan dalam hadits tersebut juga menjelaskan bahwa Yang memberi kebaikan yang hakiki berupa pemahaman agama itu adalah Allah bukan Nabi ﷺ atau makhluk siapapun. Maka mohonlah kepada Allah jangan menggantungkan harapan kepada selain Allah. Inilah yang dijelaskan oleh Syaikh Sholih al-Masy’ari al-Emaraty hafizhahullah dalam penjelasannya terhadap hadits tersebut.

Semoga bermanfaat.
Ustadz Zaki Rakhmawan Abu Usaid
Semoga kita bisa meneladani semangat beliau hafizhahullah.
ولا أزكي على الله أحدا

COMMENTS