Kekuatan Ikhlas itu Membahana Menerjang Batas Benua dan Samudera

Kekuatan Ikhlas itu Membahana Menerjang Batas Benua dan Samudera

Secuil Fawaid Daurah Muhimmatil Ilmi 1441 H

Sungguh melihat sekian banyak para penuntut ilmu yang bersemangat mengikuti Daurah, berjejal mereka untuk duduk di paling depan, bahkan ada yang kapling kaplingan. Bahkan ketika sholat, banyak yang memeluk kitab dan tas mereka agar posisi duduknya tetap dekat dengan Syaikh Hafizhahullah. Namun senyum dan ramah yang bersahaja itu tetap tersimbul dari wajah mereka.

Bukanlah yang mempertemukan mereka BiG Sale akhir Tahun atau awal Tahun, dimana kita lihat orang berjejal untuk beli barang. Berdesak desakkan membayar di kasir. Disini lebih dahsyat dari sekedar antrian belanja big sale, mereka datang dari berbagai penjuru dunia dengan “Sale” yang tidak tercantum discountnya. Label discount itu melekat di benak mereka karena sejatinya ikhlas itu menjadi energi mereka yang tak kunjung padam. Bahkan samudra dan jalan yang panjang penuh onak dan duri tidak mengurangi semangat mereka dalam menuntut ilmu.

Berikut cuplikan Fawaid dari Daurah Muhimmatil Ilmi di Madinah 1441 H.

المعقد الثاني
إخلاص النية فيه

Kisi kedua Kitab Ta’dzhim Al Ilm: Ikhlas Niat dalam menuntut ilmu

إن إخلاص الأعمال أساس قبولها وسلم وصولها

Ikhlas dalam beramal adalah asas diterimanya amal. Dan merupakan tangga untuk bisa menggapainya.

قال تعالى
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama (QS. Al Bayyinah: 5)

Imam Al Bukhori rahimahullah (wafat 256 H) dan Imam Muslim rahimahullah (wafat 261 H) mencantumkan hadits agung di dalam kitab shohihnya, yaitu (lafazh milik Imam Al Bukhori rahimahullah)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ عَنْ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Imam Al Bukhori rahimahullah berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah berkata, (dia Abdullah berkata:) telah mengabarkan kepada kami Malik dari Yahya bin Sa’id dari Muhammad bin Ibrahim dari Alqamah bin Waqash dari Umar Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan” (HR. Al Bukhori no 1, 52 dan Muslim no. 1907)

Karena ikhlaslah suatu kaum menjadi mulia. Sebagaimana Abu Bakr Al Marrudzi rahimahullah pernah mendengar seseorang berkata pada Abu ‘Abdillah yaitu Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah (wafat 241 H) mengenai jujur dan ikhlas. Imam Ahmad rahimahullah pun berkata,
بهذا ارتفع القوم
“Dengan ikhlas, semakin mulialah suatu kaum.”

Syaikh hafizhahullah berkata
وإنما ينال المرأ العلم على قدر إخلاصه
“Seseorang bisa meraih ilmu sesuai dengan kadar ikhlasnya”

Artinya, semakin seseorang ikhlas dalam belajar, maka semakin mudah meraih ilmu. Jika semakin mudah, maka ia pun akan terus semangat dalam belajar.

Ikhlas itu bisa diterapkan dengan 4 pondasi yang bisa dilakukan oleh seorang penuntut ilmu:
رفع الجهل عن نفسه
a- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada diri sendiri.

رفع الجهل عن الخلق بتعليمهم وإرشادهم لما فيه صلاح دنياهم وآخرتهم
b- Menuntut ilmu untuk mengangkat kebodohan dari ummat dengan mengajarkannya dan membimbing nya dengan apa yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya.
إحياء العلم وحفظه من الضياع
c- Belajar agama untuk menghidupkan dan menjaga ilmu.
العمل بالعلم
d- Belajar agama untuk mengamalkan ilmu.
Syaikh Hafizhahullah berkata:

فالعلم شجرة والعمل ثمرة وإنما يراد العلم بالعمل

“Ilmu itu ibarat pohon, amal itu buahnya. Ilmu itu dicari untuk diamalkan.”

Hisyam ad Dastawaiy rahimahullah (wafat 154 H) berkata:

والله ما أستطيع أن أقول إني ذهبت يوما أطلب الحديث أريد به وجه الله عزوجل

Demi Allah aku tidak sanggup untuk mengatakan, sesungguhnya aku suatu hari mencari hadits yang aku niatkan karena Allah Azza wa Jalla.

Sufyan Ats Tsauri rahimahullah (wafat 161 H ) pernah berkata,

ما عالجتُ شيئاً أشدَّ عليَّ من نيَّتي ؛ لأنَّها تتقلَّبُ عليَّ

“Tidaklah yang paling sulit untuk kuobati selain daripada niatku. Karena niatku selalu berbolak-balik.”

Sulaiman bin Daud Al Hasyimiy rahimahullah berkata,

ربَّما أُحدِّثُ بحديثٍ ولي نيةٌ ، فإذا أتيتُ على بعضِه ، تغيَّرت نيَّتي ، فإذا الحديثُ الواحدُ يحتاجُ إلى نيَّاتٍ

“Terkadang ketika aku menyampaikan satu hadits, aku butuh pada niat. Lalu jika beralih pada hadits yang lain, maka berubah pula niatku. Sehingga satu hadits itu butuh pada beberapa niat.”

Ya Allah anugerah kanlah ikhlas yang terus menerus kepada hamba yang sangat dhoif ini dan juga kepada kaum muslimin.

Ditulis oleh Abu Usaid Zaki Rakhmawan yang sedang berusaha mengatasi baper yang berkepanjangan dengan 13 kitab masih harus direngkuh dengan tertatih.

COMMENTS