Keutamaan Islam -Tidak dibangun dengan Dress code yang sama tapi dibangun berdasarkan Aqidah Tauhid yang sama.

Keutamaan Islam -Tidak dibangun dengan Dress code yang sama tapi dibangun berdasarkan Aqidah Tauhid yang sama.

secuil fawaid dari Daurah Muhimmatil Ilmi 1441 H

Orang-orang para pencari Ilmu berduyun duyun memenuhi masjid Nabawi dengan berbagai macam pakaian dan baju yang tidak sama ada yang warnanya hitam dan putih, coklat dan krem serta lainnya. Tidak ada dress code yang mengharuskan mereka satu seragam dalam memakai baju dan pakaian untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dan itu merupakan kemudahan dalam Islam.

Kesamaan mereka adalah mereka bertakbir, rukuk, sujud dengan semangat yang sama ingin mendapatkan ganjaran dari Rabb Sang Maha Pemberi Rezeki. Bahkan kesamaan itu bisa sangat terasa dari para penuntut ilmu yang mereka datang dari berbagai penjuru dunia untuk tujuan yang sama yaitu mengharap ridho Allah Azza wa Jalla dan mengangkat kebodohan dari diri mereka serta orang lain.

FAWAID:

Berikut ini adalah beberapa fawaid dari Kajian Kitab Fadhlul Ilmi oleh Syaikh Sholih bin Abdillah bin Hamd al Ushoimy hafizhahullah di Daurah Muhimmatil Ilmi

باب فضل الإسلام
Bab Keutamaan Islam

Syaikh Sholih bin Abdullah bin Hamd Al Ushoimy hafizhahullah berkata,
Bab ini tentang kekhususan Islam berupa kebaikan dan keutamaan nya.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا﴾

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. {QS. Al-Maidah :3}

Syaikh Hafizhahullah berkata:
Keutamaan Islam itu bisa dilihat dari dua pertimbangan yaitu:
a. Sempurnya Islam itu menunjukkan
keutamaannya.
b. Yang menyempurnakan itu Allah maka tidak
diragukan lagi itu adalah keutamaan yang
hakiki dalam Islam.

(قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِی شَكࣲّ مِّن دِینِی فَلَاۤ أَعۡبُدُ ٱلَّذِینَ تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَـٰكِنۡ أَعۡبُدُ ٱللَّهَ ٱلَّذِی یَتَوَفَّىٰكُمۡۖ

“Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka
(ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah
Allah yang akan mematikan kamu”. {QS. Yunus (10): 104}

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَءَامِنُوا۟ بِرَسُولِهِۦ یُؤۡتِكُمۡ كِفۡلَیۡنِ مِن رَّحۡمَتِهِۦ وَیَجۡعَل لَّكُمۡ نُورࣰا تَمۡشُونَ بِهِۦ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ)

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan
berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.{QS. Al Hadiid (57): 28}

Syaikh Hafizhahullah berkata:
Dalam ayat ini ada 3 keutamaan, yaitu:
a. Umat Islam diberikan bagian kebaikan
berupa Rahmat Allah di dunia dan akhirat
b. Umat Islam diberikan cahaya hidayah di
dunia maupun di akhirat
c. Umat Islam diampuni dosa dosanya.

  1. Dalam ash Shahih dari Ibnu ‘Umar –
    bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ أَهْلِ الْكِتَابَيْنِ، كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ أُجَرَاءَ، فَقَالَ : مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ غُدْوَةَ إِلَى نِصْفِ النَّهَارِ عَلَى قِيرَاطٍ ؟ فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ. ثُمَّ قَالَ : مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَى قِيرَاطٍ ؟ فَعَمِلَتِ النَّصَارَى. ثُمَّ قَالَ : مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنَ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ عَلَى قِيرَاطَيْنِ ؟ فَأَنْتُمْ هُمْ، فَغَضِبَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى، فَقَالُوا : مَا لَنَا أَكْثَرَ عَمَلًا وَأَقَلَّ عَطَاءً ؟ قَالَ : هَلْ نَقَصْتُكُمْ مِنْ حَقِّكُمْ ؟ قَالُوا : لَا. قَالَ : فَذَلِكَ فَضْلِي أُوتِيهِ مَنْ أَشَاءُ “.

Perumpamaan kalian dan perumpamaan dua Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani) adalah
seperti seseorang yang (bekerja) ingin mendapatkan upah dari seseorang. Orang tersebut berkata : Siapa yang mau bekerja untukku dari pagi sampai setengah hari (siang hari), ia akan mendapatkan satu Qiroth (sebagian dinar)? Maka orang Yahudi pun bekerja (untuk orang tersebut), lalu orang tersebut berkata lagi : siapa yang mau bekerja untukku dari setengah siang (siang) sampai sholat ‘Ashar ia akan mendapatkan satu Qiroth? Maka orang Nashrani pun bekerja (untuknya). Berikutnya orang itupun berkata lagi : Siapa yang mau bekerja untukku dari sholat ‘Ashar sampai tenggelamnya matahari ia akan mendapatkan dua Qiroth? Maka kalianlah (kaum muslimin) yang bekerja (untuknya). Orang Yahudi dan Nashrani pun murka. Mereka memprotes :”Bagaimana bisa, kami yang paling banyak bekerja tetapi mendapatkan upah yang sedikit (dibandingkan kaum muslimin -)?
Lakilaki tadi berkata : “Apakah kalian (dalam bekerja) mengurangi kewajiban yang
dibebankan kepada kalian sedikitpun?” mereka (Yahudi dan Nashrani) menjawab, tidak ada. Lakilaki tadipun berkata : “Ini adalah anugerahku yang aku berikan kepada orang yang aku kehendaki”.(HR. Al Bukhari no. 2268)

  1. Dalam AshShahih juga dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda :

أَضَلَّ اللَّهُ عَنِ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا ؛ فَكَانَ لِلْيَهُودِ يَوْمُ السَّبْتِ، وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوْمُ الْأَحَدِ، فَجَاءَ اللَّهُ بِنَا فَهَدَانَا اللَّهُ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ، فَجَعَلَ الْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ وَالْأَحَدَ، وَكَذَلِكَ هُمْ تَبَعٌ لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، نَحْنُ الْآخِرُونَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا، وَالْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Allah menyesatkan orangorang sebelum kita berkaitan dengan pengagungan hari
Jum’at. Adapun orang Yahudi (mengagungkan) hari Sabtu sedangkan orang Nashrani (mengagungkan) hari Ahad. Lalu Allah memberikan petunjuk kepada kita (kaum muslimin) untuk (menepati pengagungan) hari Jum’at. Demikianlah mereka (Yahudi dan Nashrani) lebih belakangan dibandingkan kita pada hari Kiamat. Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang paling terakhir di dunia, namun kita yang paling pertama pada hari Kiamat. (HR. Muslim no. 856)

Syaikh Hafizhahullah mengatakan bahwa umat Islam mempunyai keutamaan dibandingkan umat lainnya yaitu:

Lebih awal kelak hisabnya walaupun datangnya belakangan di dunia.
Lebih awal bisa masuk surga dibandingkan umat lainnya.
  1. Di dalam AshShahih – Al Bukhori juga secara mu’alaq dari Nabi shalallahu alaihi wa salam, bahwa beliau bersabda:

أَحَبُّ الدِّينِ إِلَى اللَّهِ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ “.

“AdDiin yang paling dicintai Allah adalah yang hanif dan lapang”. (HR Al Bukhori secara Mualaq sebelum no 2107)

Syaikh Hafizhahullah berkata:
Hadits Mu’allaq adalah hadits yang dari awal sanadnya terputus diatasnya pengumpul hadits ada satu orang bahkan lebih sampai kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam (inSya Allah akan di pelajari di kitab lainnya)

Al Hanifiyah itu maksudnya adalah mudah menerima apa saja yang menjadi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya
As Samhah adalah mudah dan simpel.

  1. Dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu Anhu
    ia berkata :

عليكم بالسبيل والسنة ، فإنه ما على الأرض من عبد على السبيل والسنة ذكر الله ففاضت عيناه من خشية ربه فيعذبه الله أبدا ، وما على الأرض من عبد على السبيل والسنة ذكر الله في نفسه فاقشعر جلده من خشية الله إلا كان مثله كمثل شجرة قد يبس ورقها فهي كذلك إذا أصابتها ريح شديدة فتحات عنها ورقها إلا حط الله عنه خطاياه ، كما تحات عن تلك الشجرة ورقها ، وإن اقتصادا في سبيل وسنة خير من اجتهاد في خلاف سبيل وسنة

“Berpeganglah kalian dengan jalan dan sunnah, karena tidak ada seorang hambapun yang diatas jalan dan sunnah kemudian ia berdzikir kepada Allah dan berlinang air matanya karena takut kepada Allah, tidaklah ia akan tersentuh oleh neraka. Dan tidaklah seorang hamba yang ada di atas jalan dan sunnah, lalu berdzikir kepada ArRohmaan, merinding kulitkulitnya karena takut kepada Allah, kecuali seperti pohon yang kering daundaunnya. Maka tidaklah yang dilakukan hamba tadi melainkan (menjadikan) berguguranlah dosadosanya, seperti bergugurannya daundaun dari pohonnya. Sesungguhnya bersederhana di dalam sunnah itu lebih baik daripada bersungguhsungguh di dalam (amalan) yang menyelisihi jalan dan sunnah”. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonafnya 91-92, atsar hasan hukumnya marfu’)

  1. Dari Abu Darda – Radhiyallahu Anhu, ia berkata :

يَا حَبَّذَا نَوْمُ الْأَكْيَاسِ وَإِفْطَارُهُمْ , كَيْفَ يَعِيبُونَ سَهَرَ الْحَمْقَى وَصِيَامَهُمْ , وَلَمِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ بِرٍّ مِنْ صَاحِبِ تَقْوًى وَيَقِينٍ أَفْضَلُ وَأَرْجَحُ وَأَعْظَمُ مِنْ أَمْثَالِ الْجِبَالِ عِبَادَةً مِنَ الْمُغْتَرِبِينَ».

“Wahai orang yang cerdas! Tidurnya orang yang berakal dan
berbukanya mereka mengalahkan begadang dan puasanya orang yang pandir. Sebesar dzarroh kebaikan yang diiringi dengan taqwa dan keyakinan itu lebih agung, lebih afdhal (utama) dan lebih unggul dibandingkan ibadahnya orangorang yang tertipu”. (HR. Abu Nu’aim dalam kitabnya al Hilyah, Syaikh Hafizhahullah berkata sanadnya dhoif)

Semoga Allah menjadikan kaum muslimin memahami keutamaan nya dan menjadi bersatu dengan bendera Tauhid.

Ditulis oleh Abu Usaid Zaki Rakhmawan
Yang masih berusaha menghentakkan keyboardnya dengan Bapernya yang tak kunjung padam.

COMMENTS