KEUTAMAAN TAUHID DAN DOSA-DOSA YANG DIGUGURKANNYA

Pemandangan Yang Ironi ditengah Majelis Ilmu Yang Mulia.

menjual khusyuknya dan ikhlasnya Ibadah hanya untuk sejempol dan dua jempol…ah dengan dalih ini itu….IRONI.

Semenjak jam 3 pagi para penuntut ilmu sudah berdatangan untuk mendapatkan posisi yang paling dekat dengan Syaikh Sholih bin Abdillah bin Hamd al-Ushoimy hafizhahullah. Namun bagi kaum muslimin lainnya mereka bergerak untuk mencari titik spot yang paling menarik untuk selfie.

Ini dijumpai bukan pagi saja, bahkan setiap saat, dengan dalih Tahaduts binikmat – Mengutarakan kenikmatan kepada orang lain sebagai tanda syukurnya kepada berbagai Nikmat Allah. (Ini pun bukan dilakukan oleh orang awam namun juga Sebagian ikhwan penuntut ilmu pun melakukannya – semoga Allah memberikan hidayah)

Padahal disitu kita diuji tauhid kita, yaitu hendaknya kita mempersembahkan semua amalan ibadah kita hanya kepada Allah semata bukan untuk mendapatkan acungan jempol dari manusia yang lemah.d

Berikut ini Fawaid dari Daurah Muhimmatil Ilmi hari ini tentang Keutamaan Tauhid.

BAB 2
فَضْلُ التَّوْحِيْدِ وَ مَا يُكَفِّرُ مِنَ الذُّنُوْبِ

KEUTAMAAN TAUHID DAN DOSA-DOSA YANG DIGUGURKANNYA

Syaikh Sholih bin Abdillah bin Hamd al-Ushoimy hafizhahullah berkata:
Penjelasan keutamaan Tauhid dan apa yang bisa digugurkan dari berbagai dosa.

ma disini bisa dua sudut pandang :

a. Isim Maushul – Kata benda sambung yang bermakna Aladzi الذي yang
dan asumsi kalimat yang seharusnya adalah Bab Keutamaan Tauhid dan Berbagai Dosa (Yang) dapat digugurkannya.

b. Sebagai Mashdar (kata kerja yang dibendakan) maka asumsi kalimat yang seharusnya adalah Bab Keutamaan Tauhid dan Penghapusannya Terhadap Bebagai macam dosa.

Dan yang dimaksud dengan kata Tauhid disini adalah Tauhid al Ibadah sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan dalam kitabnya Qurratu ‘Uyun al-Muwahhidin, sehingga keutamaan dalam terjemah bab ini adalah Keutamaan Tauhid al-Ibadah (Tauhid Uluhiyyah – Tauhid yang menjadikan satu-satunya yang berhak diibadahi dengan benar adalah Allah semata)

Disini Syaikh Sholih bin Abdillah bin Hamd al-Ushoimy hafizhahullah mengatakan:
dalam Bab ini terdapat Lima Dalil:

Dalil Pertama :

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَـٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak menodai keimanan mereka dengan kedzhaliman (kemusyrikan), mereka itulah orang-orang yang mendapat ketentraman dan mereka itulah orang-orang yang mendapat jalan hidayah.” (QS. Al An’am: 82).

Yang dimaksudkan kenapa dicantumkan ayat diatas adalah:

أُولَـٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

mereka itulah orang-orang yang mendapat ketentraman dan mereka itulah orang-orang yang mendapat jalan hidayah.”
Barangsiapa yang beriman dan tidak mencampur adukkan imannya dengan syirik maka balasannya adalah keamanan dan hidayah Di Dunia maupun di akhirat. Maka termasuk keutamaan Tauhid adalah Sebagai sebab seseorang mendapatkan keamanan dan hidayah di Dunia dan Akhirat.
dan makna ad-Dhulum disini adalah Syirik sebagaimana terdapat di as-Shohihain dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu.

Dalil kedua:

Dari Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ ))

“Barangsiapa yang bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba dan Rasul-Nya, dan kalimat-Nya (yaitu kalimat كُنْ –pent) yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dariNya (yaitu dari ruh-ruh ciptaan-Nya –pent) dan surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga, bagaimanapun kondisi amal perbuatannya.” (HR. al-Bukhari & Muslim).

Syaikh hafizhahullah mengatakan: hadits ini disepakati oleh al Bukhori dan Muslim dan ini adalah makna dari perkataan Syaikh Penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah) dengan Akhrajaahu.

Maksud dari dicantumkan dalil ini dalam bab ini adalah :
أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

Allah pasti memasukkannya ke dalam surga, bagaimanapun kondisi amal perbuatannya.
Yaitu dari baik dan buruknya maka termasuk keutamaan Tauhid adalah Barangsiapa yang mati dalam keadaan bertauhid maka kembalinya kelak ke Surga.

Tauhid menjadikan seseorang masuk Suga dengan dua macam makna:

a. Masuk surga dalam keadaan bertauhid dan ini adalah keberuntungan orang yang bertauhid dimana kebaikan tauhid itu mengalahkan kejelekan yang dilakukannya. Dia pun akan mendapatkan keutamaan dari Allah jikalau amalan kebaikan dan kejelekannya seimbang maka Allah akan memberikannya Ampunan baginya.

b. Masuk surga dengan kecondongan untuk masuk neraka kemudian dijauhkan dari neraka yang seharusnya dia masuk kedalam neraka. Akhir tempat tinggalnya adalah surga.

Dalil Ketiga :

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari ‘Itban radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda:

(( فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ ))

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan neraka bagi orang orang yang mengucapkan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ dengan ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah Allah”.

Maksud dari dicantumkan dalil ini dalam bab ini adalah
فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan neraka bagi orang orang yang mengucapkan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ dan termasuk keutamaan Tauhid adalah Tauhid mencegah orang yang bertauhid masuk Neraka.

Pencegahan Tauhid bagi orang yang bertauhid terhadapa api neraka itu adalah dua macam:
a. Tercegah untuk masuk dan ini adalah keutamaan dari orang yang sempurna Tauhidnya walaupun dia mempunyai dosa. Allah akan mengampuninya dan mengharamkannya untuk masuk neraka.

b. Tercegah untuk masuk kekal selama-lamanya dan ini adalah keberuntungan dari orang yang bertauhid.

Dalil Keempat

Diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( قَالَ مُوْسَى يَا رَبِّ، عَلِّمْنِيْ شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ، قَالَ: قُلْ يَا مُوْسَى: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ، قَالَ: يَا رَبِّ كُلُّ عِبَادِكَ يَقُوْلُوْنَ هَذَا، قَالَ: يَا مُوْسَى لَوْ أَنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِيْ وَالأَرْضِيْنَ السَّبْعَ فِيْ كِفَّةٍ، وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ فِيْ كِفَّـةٍ، مَالَتْ بِهِـنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ ))

“Musa berkata: “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu”, Allah berfirman:” ucapkan hai Musa لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ Musa berkata: “ya Rabb, semua hamba-Mu mengucapkan itu”, Allah menjawab:” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya –selain Aku- dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimatلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ lebih berat timbangannya.” (HR. Ibnu Hibban, dan Hakim sekaligus menshahihkan-nya).

Syaikh hafizhahullah berkata, Hadits ini terdapat pada orang yang lebih baik untuk disandarkan daripada keduanya (Ibnu Hibban dan al-Hakim) yaitu Imam An-Nasai dalam kitabnya as-Sunan al-Kubro. Dan penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah) menisbatkan kepada keduanya karena memang kitab kedunya memiliki kekhususan lebih banyak hadits-hadits yang telah dishohihkan oleh keduanya. Ketika disandarkan hadits itu pada keduanya memberikan manfaat bahwa hadits ini shohih menurut Ibnu Hibban dan al-Hakim rahimahumallah. Walaupun ketika diteliti lagi ternyata sanadnya dhoif namun secara umum hadits ini berkaitan dengan keutamaan Tauhid yang ada banyak hadits lainnya sebagai penguatnya sehingga bisa menjadi hadits hasan.

dan Maksud dari dicantumkan dalil ini dalam bab ini adalah:
مَالَتْ بِهِـنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ
niscaya kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ lebih berat timbangannya.”

Maka termasuk Keutamaan Tauhid adalah memberatkan timbangan seorang hamba kelak.

Hadits Kelima:

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu ia berkata: “aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً))

“Allah I berfirman: “Hai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, dan engkau ketika mati dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula”. (at-Tirmidzi meriwayatkan hadits (yang menurut penilaiannya hadits itu hasan)

dan Maksud dari dicantumkan dalil ini dalam bab ini adalah:
لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.
Termasuk keutamaan Tauhid adalah menghapuskan berbagai dosa.
Penyebutan at-Tauhid dalam hadits
La Tusyriq bi Syaian, disebutkan karena maksudnya adalah Tauhid itu hanya bisa direalisasikan dengan meniadakan kesyirikan.

Kandungan bab ini:

  1. Luasnya karunia Allah ‘Azza wa Jalla.
  2. Besarnya pahala tauhid di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.
  3. Dan tauhid juga dapat menghapus dosa.
  4. Penjelasan tentang ayat yang ada dalam surat Al An’am.
  5. Perhatikan kelima masalah yang ada dalam hadits Ubadah.
  6. Jika anda memadukan antara hadits Ubadah, hadits Itban dan hadits sesudahnya, maka akan jelas bagi anda pengertian kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ juga kesalahan orang-orang yang tersesat karena hawa nafsunya. (Syaikh Hafizhahullah mengatakan, nampak jelas bahwa yang dimaksud dengan perkataan اَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ adalah mengamalkan dengan apa yang menjadi konsekuensinya dan meyakini maknanya. Maka barangsiapa yang mengaku beragama Islam namun hanya mengucapkannya saja tanpa meyakini dengan kuat dan enggan melakukan apa yang menjadi keharusannya (meniadakan kesyirikan) maka mereka itulah orang orang yang tertipu.)
  7. Perlu diperhatikan syarat-syarat yang disebutkan dalam hadits Itban, (yaitu ikhlas semata-mata karena Allah, dan tidak menyekutukan-Nya).
  8. Para Nabipun perlu diingatkan akan keistimewaan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ.
  9. Penjelasan bahwa kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ berat timbangannya mengungguli berat timbangan seluruh makhluk, padahal banyak orang yang mengucapkan kalimat tersebut.
  10. Pernyataan bahwa bumi itu tujuh lapis seperti halnya langit.
  11. Langit dan bumi itu ada penghuninya.
  12. Menetapkan sifat-sifat Allah apa adanya, berbeda dengan pendapat Asy’ariyah.
  13. Jika anda memahami hadits Anas, maka anda akan mengetahui bahwa sabda Rasul yang ada dalam hadits Itban: “sesungguhnya Allah mengharamkan masuk neraka bagi orang-orang yang mengucapkan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ dengan penuh ikhlas karena Allah, dan tidak menyekutukan-Nya”, maksudnya adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, bukan hanya mengucapkan kalimat tersebut dengan lisan saja.
  14. Nabi Muhammad dan Nabi Isa adalah sama-sama hamba Allah dan Rasul-Nya.
  15. Mengetahui keistimewaan Nabi Isa, sebagai Kalimat Allah.
  16. Mengetahui bahwa Nabi Isa adalah ruh di antara ruh-ruh yang diciptakan Allah.
  17. Mengetahui keistimewaan iman kepada kebenaran adanya surga dan neraka.
  18. Memahami sabda Rasul: “betapapun amal yang telah dikerjakannya”.
  19. Mengetahui bahwa timbangan (di hari kiamat) itu mempunyai dua daun.
  20. Mengetahui kebenaran adanya Wajah bagi Allah.

Semoga Allah memberikan kita kepada hidayah dan juga kepada kaum muslimin untuk senantiasa mengikhlaskan niat ibadah kita kepada Allah Dzat Yang Maha Pemberi Rezki.

Ditulis oleh Abu Usaid Zaki Rakhmawan, yang masih memperbaiki ikhlasnya karena baper dan tertatih mengetik fawaid dari luasnya ilmu di Daurah Muhimmatil Ilmi.

COMMENTS