Menahan kencing dan buang air besar? Sudah kepepet terus bagaimana ?

بسم الله الرحمن الرحيم 

🔋Menahan kencing dan buang air besar? Sudah kepepet terus bagaimana ?
Jika seseorang shalat ditengah sholatnya ia menahan kentut, apakah shalatnya sah?
Berikut simaklah hadits yang mulia, yaitu hadits dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ
“Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan akhbatsan (kencing dan  buang air besar).” (HR. Muslim no. 560 (67)).
Menurut jumhur (mayoritas) ulama, menahan kentut dihukumi makruh (tidak disukai).
✏Imam Nawawi rahimahullah (wafat 676 H) menjelaskan,
فِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ كَرَاهَةُ الصَّلَاةِ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ الَّذِي يُرِيدُ أَكْلَهُ لِمَا فِيهِ مِنِ اشْتِغَالِ الْقَلْبِ بِهِ وَذَهَابِ كَمَالِ الْخُشُوعِ وَكَرَاهَتِهَا مَعَ مُدَافَعَةِ الْأَخْبَثِينَ وَهُمَا الْبَوْلُ وَالْغَائِطُ وَيَلْحَقُ بِهَذَا مَا كان في معناه مما يَشْغَلُ الْقَلْبَ وَيُذْهِبُ كَمَالَ الْخُشُوعِ وَهَذِهِ الْكَرَاهَةُ عِنْدَ جُمْهُورِ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمِ إِذَا صَلَّى كَذَلِكَ وَفِي الْوَقْتِ سَعَةٌ فَإِذَا ضَاقَ بِحَيْثُ لَوْ أَكَلَ أَوْ تَطَهَّرَ خَرَجَ وَقْتُ الصَّلَاةِ صَلَّى عَلَى حَالِهِ مُحَافَظَةً عَلَى حُرْمَةِ الْوَقْتِ وَلَا يَجُوزُ تَأْخِيرُهَا
Dalam hadits-hadits tersebut – hadits tentang makruhnya sholat ketika makananan sudah siap berkaitan dengan apa-apa yang dapat menyibukkan hati dan hilangnya kesempurnaan khusyuk, dan hukum makruhnya tersebut juga berlaku pada “Menahan kencing dan buang air besar (termasuk pula kentut) karena mengakibatkan hati seseorang tidak konsen di dalam shalat dan khusyu’nya jadi tidak sempurna. Menahan buang hajat seperti itu dihukumi makruh menurut mayoritas ulama Syafi’iyah dan juga ulama lainnya. Jika waktu shalat masih longgar (artinya: masih ada waktu luas untuk buang hajat /ke wc/toilet), maka dihukumi makruh. Namun bila waktu sempit untuk shalat, misalnya jika makan atau bersuci dapat menyebabkannya keluar dari waktu shalat, maka (walau dalam keadaan menahan kencing), maka tetap shalat di waktunya sebagai bentuk penjagaan terhadap waktu sholat dan tidak boleh ditunda sholatnya.”
وَإِذَا صَلَّى عَلَى حَالِهِ وَفِي الْوَقْتِ سَعَةٌ فَقَدِ ارْتَكَبَ الْمَكْرُوهَ وَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ عِنْدَنَا وَعِنْدَ الْجُمْهُورِ لَكِنْ يُسْتَحَبُّ إِعَادَتُهَا وَلَا يَجِبُ
✏Imam Nawawi berkata pula, “Jika seseorang shalat dalam keadaan menahan kencing/kentut padahal masih ada waktu yang longgar untuk melaksanakan shalat setelah buang hajat, maka dia telah melakukan perbuatan yang makruh (shalat kala itu dihukumi makruh). Namun, shalat tersebut tetaplah sah menurut kami -ulama Syafi’i- dan ini yang jadi pendapat jumhur atau mayoritas ulama. Dan disukai untuk diulangi dan hukum pengulangan tersebut tidak wajib” (Syarh Shahih Muslim, 5/46)
🌰Kentut termasuk dalam makna Kencing dan Buang air Besar:
✏Syaikh Bin Baz rahimahullah (wafat 1420H/ 1999 M) menjelaskan 
وهو يدافعه الأخبثان  يعني البول والغائط، والريح في معناهما فإنالريح إذا اشتدت تكون في معنى البول والغائطفي إيذاء المصلي وفي إشغاله عن صلاته
“Dan dia menahan al-Akhbatsaan – yaitu kencing dan buang air besar sedangkan kentut adalah masuk pada makna keduanya oleh karena itu kentut apabila sudah memuncak (mo keluar) sama masuk dalam makna kecing dan buang besar dimana keduanya mengganggu orang yang sedang sholat sehingga sibuk tidak khusyuk sholatnya.  (Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz, 11/81)
 Semoga bermanfaat 
🚰 Ustadz Zaki Abu, Kayyisa hafizhahulloh

gambar pixabay.com

COMMENTS