PERANG URAT SYARAF ANTARA GURU DAN MURID?

PERANG URAT SYARAF ANTARA GURU DAN MURID?
mungkin halaman ini terlewat bagi yang suka mengobarkan PERANG URAT SYARAF…. (lihat Syarah Hilyah Tholibil Ilmi hal 124 – Adab Murid kepada Gurunya)


Karena ada video/artikel yang viral…maka itu juga contoh dari Cruise control (istilah pembalap) …makanya sesama yang punya Cruise control di Indonesia tidak berlaku karena akibatnya bisa fatal.


Kalau kendaraan diset dengan kecepatan 160 km jam dengan cruise control maka akan melaju otomatis tidak usah diinjak gas…(cukup dipencet tombol cruise control di kemudi sopirnya).


Langsung nancap…bahaya nya adalah tidak bisa dikendalikan dengan langsung meski kalo sudah di tekan rem bisa hilang efek Cruise control nya.


Itulah kenapa nulis di medsos seperti naik Ferrari full Cruise control…Ndak pakai injak gas…efek laju nya sudah melesat tak terukur…
Wush wush wush.


Efek lama di Arab jalannya longgar semua …bisa laju tanpa takut nabrak…tapi sekarang sudah banyak radar…yang akan menindak para pembalap yang tidak bertanggung jawab. Di denda dengan dana yang cukup besar.


Itulah bahasa yang tidak akan didapat ketika di Magelang dengan kecepatan 160 km mustahil…(pasti nabrak atau menyusahkan orang lain – bahkan ditangisi oleh banyak orang – Allahul Musta’an).


Alih alih hanya akan menyebabkan efek apa itu sudah gila? Apa nekat pak Ustadz? Oh itu yang nyetir pak ustadz? Wuih jenggotan kenceng amat…


Kesimpulannya adalah sekiranya saya menjadi murid, ketika ada guru saya yang salah atau keliru maka tentunya saya harus :

  1. Mendoakan kebaikan kepada guru saya, karena bisa jadi guru saya itu melakukan kekeliruan atau kesalahan karena diri ini kurang mendoakan kebaikan kepada sang guru.
  2. Ketika ada seorang guru yang salah, maka tentunya harus ditegur dengan hikmah, bisa jadi didalam kajian langsung sekiranya itu bisa memperbaiki langsung seperti orang yang live streaming atau direkam dan dishare. Ataupun ketika itu kajian tertutup tidak di live maka alangkah baiknya seorang murid ngobrol langsung dari hati ke hati dengan gurunya agar mashlahatnya bisa dirasakan oleh umat begitupun kemudhorotannya tidak akan merusak dan mecabik-cabik kerukunan ukhuwah islamiyyah,
  3. Guru saya salah, maka beliau adalah bapak saya dalam hal ilmu, maka tentunya apakah pantas saya mengumbar 1 kesalahannya dibandingkan dengan 1000 kebaikan yang pernah saya dapatkan darinya?
  4. semoga Allah menganugerahi kita kesabaran dan kemudahan untuk mendoakan kebaikan kepada guru-guru kita.
    ada yang link untuk murojaah bagi yang berkenan: silahkan di lihat https://www.facebook.com/kajiansunnahmagelang/videos/2780543572055215/?

Di tulis oleh Ustadz Zaki Abu Usaid Hafidzahulloh

COMMENTS