Pertanyaan Tentang Buku Ayah Ibumu Pintu Surgamu Apakah masih layak dibaca untuk orang yang sudah tidak punya orangtua lagi ?

Pertanyaan Tentang Buku Ayah Ibumu Pintu Surgamu
Apakah masih layak dibaca untuk orang yang sudah tidak punya orangtua lagi ?

Jawab:
Barakallahu fikum, sangat layak, karena sesungguhnya Birrul walidain yang sebenarnya (baca: yang sejatinya tanpa basa-basi) dimulai sepeninggal kedua orang tua tidak ada, karena bisa jadi ketika keduanya masih ada maka sebagai anak, kita terkadang melakukan kebaikan itu hanya basa-basi. Sedangkan sepeninggal kedua orang tua kita, keduanya sangat butuh kepada doa kebaikan dan amal-amal kebaikan dari anak-anaknya. Karena dengan hal tersebut orang tua kita kelak akan terangkat derajatnya di sisi Allah.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: تُرْفَعُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ مَوْتِهِ دَرَجَتُهُ. فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، أَيُّ شَيْءٍ هَذِهِ؟ فَيُقَالُ: وَلَدُكَ اسْتَغْفَرَ لَكَ
Imam al-Bukhori rahimahullah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, (dia Ahmad) berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr, dari ‘Ashim, dari Abi Sholih, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dia berkata, ‘Derajat seorang mayyit diangkat tinggi setelah wafatnya, kemudian diapun berkata, “Ya Allah, posisi apa ini ?” Lalu dikatakan, “Anakmu memohonkan doa ampunan bagi mu.”

TAKHRIJ HADITS:
HR. Al-Bukhori dalam Al-Adabul Mufrod no. 36, Al-Laalika-i dalam Syarah Ushulil I’tiqad no. 2171, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 6/255 dari Abu Hurairah secara mauquf, dan Ahmad no. 10610, Ibnu Abi Syaibah no. 12081, 29740 dan Ibnu Majah no. 3660 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu secara marfu’ dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah di kitab Silsilah Ahaadits ash-Shohiihah no. 1598.

Jadi birrul walidain itu adalah kewajiban sepanjang masa, selama ruh kita masih menyatu dengan badan kita maka berbakti kepada kedua orang tua baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal adalah suatu kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi.

Begitu pula kebaikan dari birrul walidain itupun akan membekas kepada anak keturunan kita kelak, mereka akan terimbas dengan kebaikan bakti kita kepada orang tua kita. Dan semoga Allah menjadikan anak keturunan kita menjadi anak-anak yang berbakti kepada kita karena itu adalah salah investasi terbaik dari dunia ini.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عَمَّتِهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلْتُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ، وَإِنَّ أَوْلَادَكُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ»
Imam Ibnu Majah rahimahullah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, dia berkata, ‘Telah menceritakan Ibnu Abi Zaaidah, dari al-A’masy dari ‘Umaarah bin ‘Umair dari Bibinya, Dari Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda ((Sesungguhnya sebaik-baik apa yang kalian makan adalah dari hasil usaha investasi kalian, dan sesungguhnya anak-anak kalian dari usaha investasi kalian

TAKHRIJ HADITS:
HR. Ahmad no. 25296, Ibnu Majah no. 2290, at-Tirmidzi no. 1358, Ad-Darimy no. 2579, Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf no. 24175 , Shohih Lihat Irwaul Ghalil no. 1626.

Bahwa anak bagian dari usaha orangtua. Bahkan sebaik-baik usaha orangtua adalah anak. Apabila kita telah mengetahui kaidah ini maka terjawablah pertanyaan dan dan tersingkaplah kemusykilan-kemusykilan serta lapanglah dada dalam memahami ayat-ayat Al Qur’an yang menegaskan bahwa “seseorang tidak akan memperoleh kebaikan (pahala atau ganjaran) kecuali atas hasil usahanya sendiri. Diantara ayat di bawah ini:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
“Dan bahwasanya seseorang itu tidak akan memperoleh (kabaikan) kecuasli dari hasil usahanya sendiri” (QS An Najm: 39)
Di ambil dari Inti Sari Buku: Buku Ayah Ibumu Pintu Surgamu
semoga bermanfaat.

Ustadz Zaki Rakhmawan Abu Usaid

COMMENTS