Sabar Terhadap Takdir Allah Bagian Dari Iman

Syaikh_Sholih_bin Abdillah bin Hamd Al Ushoimy telah memberikan izin “لا بأس به” untuk ana nerjemahin Fawaid kajian beliau hafizhahullah. (Alhamdulillah-legal)
Secuil Fawaid yang berserakan dari Daurah Muhimmatil Ilmi 1441 H.

Dari kitab Muqorrorot Barnamij Muhimattil ilmi jilid 1 Hal 459

Berikut ini Fawaid dari Daurah Muhimmatil Ilmi hari ini tentang Kitabut Tauhid – hal 459 dari Kitab Muqarrorot Muhimmatil Ilmi

باب من الإيمان بالله الصبر على أقدار الله

Bab 35 : Sabar Terhadap Takdir Allah Bagian Dari Iman

Syaikh Sholih bin Abdullah bin Hamd al Ushoimy hafizhahullah berkata, “Bab ini maksudnya adalah penjelaan bahwa sabar terhadap takdir Allah adalah bagian dari Iman kepada Allah. Dan sabar terhadap taqdir Allah adalah termasuk kesempurnaan tauhid yang wajib dan sebaliknya apabila putus asa tidak sabar merupakan tindakan yang diharamkan.”

dan Penulis rahimahullah (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah) mencantumkan 5 dalil.


DALIL PERTAMA


Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يُؤْمِن بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Syaikh Hafizhahullah berkata:
Maksud dari dicantumkan dalil ini dalam bab ini adalah sabarnya seorang hamba dalam menghadapi musibah menunjukkan sabarnya seorang mukmin terhadap taqdir Allah dan itu termasuk bagian dari Iman.

هو الرجل تصيبه المصيلة فيعلم أنها من عند الله فيرضى ويسلم

Alqamah rahimahullah (wafat 61 H nama aslinya Alqamah bin Qais bin Abdullah ) berkata, “Maksud ayat itu adalah seorang yang tertimpa musibah, ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridha dan pasrah kepada-Nya.”


DALIL KEDUA


Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

” اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ: الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ “

“Ada dua yang masih dilakukan manusia, dimana keduanya merupakan kekufuran, yaitu mencela nasab dan meratapi mayit.” (HR. Muslim no. 67)

Syaikh hafizhahullah berkata:
Maksud dari dicantumkan dalil ini dalam bab ini
وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ

yaitu mengeraskan suara dengan tangisan terhadap mayit dan hal ini dalam hadits disebut sebagai bagian dari kekufuran dan meniadakan sabar terhadap takdir Allah maka hal tersebut adalah diharamkan dan kebalikannya adalah sabar terhadap takdir Allah itu adalah sesuatu yang wajib.
Dan dalam hadits

هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ

keduanya merupakan kekufuran, itu merupakan bagian dari kekufuran dan ini dalam sudut pandang syar’i adalah tergolong kufur kecil


DALIL KETIGA


Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud secara marfu (berasal dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam),

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ، أَوْ شَقَّ الْجُيُوبَ، أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, merobek kerah baju, atau menyeru dengan seruan Jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103)

Syaikh Hafizhahullah berkata:
Maksud dari dicantumkan dalil ini dalam bab ini
لَيْسَ مِنَّا
Bukan termasuk golongan kami
Ketika menyebutkan perkara penyesalan kekhawatiran yang dilakukan oleh manusia ketika diturunkan nya taqdir bagi mereka.
Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa salam “Bukan termasuk golongan kami” menunjukkan larangan karena hal tersebut meniadakan Sempur nya imam yang wajib tidak bisa seorang hamba selat darinya kecuali dengan sabar maka sabar ini adalah wajib hukumnya.


DALIL KEEMPAT


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ»

“Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk seorang hamba, maka Allah menyegerakan hukuman baginya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuk seorang hamba, maka Dia tangguhkan dosanya, sampai Dia penuhi balasannya nanti pada hari Kiamat.” (at-Tirmidzi no. 2396 dengan sanad yang sama dan dari sahabat yang sama, juga diriwayatkan oleh Ahmad no. 4/87, dan Hakim 1/349, hasan)

Syaikh Hafizhahullah berkata
Maksud dari dicantumkan dalil ini dalam bab ini ada dalam lafazh:

عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا

maka Allah menyegerakan hukuman baginya di dunia.
Maksudnya adalah hukuman terhadap dosa dosanya kemudian Allah memberi rezeki berupa sabar. Maka terjadinya musibah itu adalah pertanda Allah menginginkan kebaikan kepada nya. Kebaikan disini tersusun dari dua hal:

a. Disegerakan nya hukuman di dunia

b. Allah memberi Taufiq berupa kesabaran dengan diturunkan nya adzab dan musibah.


DALIL KELIMA


Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ»

“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka; barang siapa yang ridha, maka dia akan memperoleh keridhaan Allah, dan barang siapa yang kesal, maka dia akan memperoleh kemurkaan-Nya.” (Dihasankan oleh Tirmidzi,+
at-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Majah no. 4031)

Syaikh Hafizhahullah berkata,
Maksud dari dicantumkan dalil ini dalam bab ini ada 2:

a. Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam

فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا،

barang siapa yang ridha, maka dia akan memperoleh keridhaan Allah
Ridho mengandung kesabaran dan lebih dari sekedar kesabaran. Maka penyebutan ridho ini untuk mengambarkan kesabaran dan pujiannya adalah kebaikan ganjaran ridho menunjukkan pujian terhadap kebaikan sabar. Dan apa saja yang dipuji oleh syari’at maka itu termasuk ibadah.

b. Sabdanya:
وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

barang siapa yang kesal, maka dia akan memperoleh kemurkaan-Nya.

Ditimpakannya kemurkaan-Nya karena tdak adanya sabar yang menunjukkan asumsi yang selaras dengan hal tersebut (kalau tidak sabar maka mendapatkan kemurkaan-Nya). Seorang hamba apabila meninggalkan sabar maka dia akan mendapatan kemurkaan-Nya.

Sabdanya
فَلَهُ السَّخَطُ

maka dia akan memperoleh kemurkaan-Nya.

bisa ditulis dengan dua penulisan:
a السُّخْطُ as Sukhtu dengan dhomah huruf simnya
b. السَّخَطُ as sakhatu dengan Fatihah huruf sinnya

Kandungan dalam bab ini :

  1. Penjelasan tentang ayat dalam surat At Taghobun.
  2. Sabar terhadap cobaan termasuk iman kepada Allah.
  3. Disebutkan tentang hukum mencela keturunan.
  4. Ancaman keras bagi orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek baju, dan menyeru kepada seruan jahiliah (karena meratapi orang mati).
  5. Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hambaNya.
  6. Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hambaNya.
  7. Tanda kecintaan Allah kepada hambaNya.
  8. Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan ketika diuji oleh Allah.
  9. Pahala bagi orang yang ridho atas ujian dan cobaan.

Alhamduillah ‘ala kulli haal
Kota Madinah yang dirindukan itu sedang dilanda musim dingin. Tembus ke 5 Derajat Celcius.

Ya sebenarnya di beberapa titik daerah Magelang ada yang berhawa yang mirip mirip namun bedanya adalah dingin di kota Madiah ini sangat kering dan tidak bisa di duga kapan puncak dinginnya.

4 Hari berlalu dari Daurah Muhimmatil Ilmi, sebagian dari para penuntut ilmu ada yang sudah mulai batuk dan kedinginan.

Aku bukanlah seperti mereka
Badanku kepenuhi dengan balsem
Agar badanku mampu belajar merdeka
Tak ada rengekan rasa gula dan asem

Kurangkap baju dan celana
dingin menggigil masih mencengkam
wajah ikhwan kering merana
mengais ilmu bodoh terbungkam

Capek dan penat itu menghimpit
menggores sebagian tubuh tertatih
menyibukkan ilmu di waktu sempit
merengkuh ilmu tiap detik berlatih

bersabar menjaring ilmu di laut
walau hanya jaring tangan bertaut
cuaca apapun tak boleh takut
Pun Surga terhampar setelah maut

berjibaku dengan lelah tak apa
ulama dulu tinggi menjulang asa
letih tak akan berhenti menyapa
Setelah ajal pasti bahagia berasa

Ya Allah berikanlah aku kemudahan dalam menuntut ilmu dan Ikhwan sekalian karena sesungguhnya Engkaulah yang memberikan ilmu dan yang memudahkannya.

Ditulis oleh Abu Usaid Zaki Rakhmawan
Yang masih berjuang tertatih mengumpulkan Fawaid yang berserakan karena lemah, terhuyung dan bapernya masih bertengger mencengkeram.

COMMENTS