Sederhana dalam Ibadah

Ringkasan kajian rutin pekanan Ustadzuna Abu Usaid Zaki Rakhmawan Hafidzahullah dari kitab Bahjatun Nadzirin syarah Riyadhus Sholihin-

Hadis ke 152 Bab Sederhana dalam Ibadah

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata :

بَيْنَمَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ إِذَا هُوَ بِرَجُلٍ قَائِمٍ فَسَأَلَ عَنْهُ فَقَالُوْا: أَبُوْ إِسْرَائِيْلَ نَذَرَ أَنْ يَقُوْمَ وَلَا يَقْعُدَ وَلَا يَسْتَظِلَّ وَلَا يَتَكَلَّمَ وَيَصُوْمَ.

*”Ketika Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah, tiba-tiba ada seseorang berdiri, maka Rasulullah bertanya tentang perihalnya, lalu mereka menjawab, ‘Dia adalah Abu Isra`il, dia telah bernadzar untuk tetap berdiri, tidak duduk, tidak berteduh, tidak berbicara, dan berpuasa’.” *
Maka Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مُرْهُ فَلْيَتَكَلَّمْ وَلْيَسْتَظِلَّ وَلْيَقْعُدْ وَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ.
“Perintahkan kepadanya, hendaklah dia berbicara, berteduh, duduk, dan supaya menyempurnakan puasanya.”(Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6704).

Penjelasan hadis:

Apa itu Nadzar? Nadzar adalah seseorang mewajibkan bagi dirinya sesuatu yang bukan bagian dari kewajiban dari Allah Azza wa jalla dan itu dilakukan manakala permintaannya dikabulkan oleh Allah.

Hukum nadzar adalah “Makruh”. Berdasarkan beberapa sabda Rasulullah ﷺ:

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

نَهَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ النَّذْرِ قَالَ « إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ شَيْئًا ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ »

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bernadzar, beliau bersabda: ‘Nadzar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit)’.” (HR. Al-Bukhari no. 6693 dan Muslim no. 1639)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَنْذُرُوا فَإِنَّ النَّذْرَ لاَ يُغْنِى مِنَ الْقَدَرِ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ

“Janganlah bernadzar. Karena nadzar tidaklah bisa menolak takdir sedikit pun. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang pelit.” (HR. Muslim no. 1640)

Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ النَّذْرَ لاَ يُقَرِّبُ مِنِ ابْنِ آدَمَ شَيْئًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ قَدَّرَهُ لَهُ وَلَكِنِ النَّذْرُ يُوَافِقُ الْقَدَرَ فَيُخْرَجُ بِذَلِكَ مِنَ الْبَخِيلِ مَا لَمْ يَكُنِ الْبَخِيلُ يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَ

“Sungguh nadzar tidaklah membuat dekat pada seseorang apa yang tidak Allah takdirkan. Hasil nadzar itulah yang Allah takdirkan. Nadzar hanyalah dikeluarkan oleh orang yang pelit. Orang yang bernadzar tersebut mengeluarkan harta yang sebenarnya tidak ia inginkan untuk dikeluarkan. ” (HR. Al-Bukhari no. 6694 dan Muslim no. 1640)

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa nadzar itu makruh. Demikianlah pendapat jumhur (mayoritas ulama). Akan tetapi, jika terlanjur mengucapkan, maka nadzar tersebut tetap wajib ditunaikan.

*Faedah dari hadis :

1. Nadzar dengan cara berdiam diri (Mogok bicara atau aksi tutup mulut) bukan bagian dari syaria’at islam

2. Allah tidak akan menerima suatu amalan, yang mana amalan tersebut tidak disyariatkannya. Dan tidak menjadikan amalan tersebut sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla

3. Apa saja yang bisa menciderai atau mengganggu diri seseorang dan itu tidak disyariatkan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak selayaknya seseorang melakukan pendekatan diri dengan cara yang demikian.

4. Tidak ada ketaatan dalam Nadzar yang didalamnya ada kemaksiatan. Jika ada yang demikian maka tidak perlu dan tdk boleh ditaati.

5. Sedangkan Nadzar yang isinya ketaatan, maka hendaknya ditunaikan atau disempurnakan

6. Boleh bertanya tentang kondisi2 yang aneh sebelum mengingkarinya

7. Wajibnya mencegah kemungkaran dengan tangan apabila dia mampu. Bila tidak bisa, maka dengan lisan

8. Bolehnya memberi mandat/kuasa ketika menyampaikan jawab atau larangan atau perintah kepada seseorang .

9. Tidak mendiamkan atau menunggu tatkala melihat kemungkaran dihadapan. Sebagaimana Rasulullah ﷺ langsung meluruskan kekeliruan atau kesalahan meskipun harus melalui perantara orang lain

10. Pekanya Rasulullah ﷺ terhadap keadaan sekitar beliau dan agungnya adab Rasulullah ﷺ dalam mengingkari kesalahan. ( Nampak dari hadits tersebut, Posisi Rasulullah ﷺ agak jauh dari abu Isroil, namun beliau peka, tidak apatis dan tidak mengingkari kekeliruan perilaku sahabatnya dengan berteriak tetapi disampaikan melalui sahabat yg lain)

Semoga bermanfaat
Magelang,
Selasa 20 Rabiutsani 1441H/17 Desember 2019

Ditulis oleh Akh Sholih Al Katiri hafizhahullah,
telah Dimurojaah oleh Ustadz Abu Usaid Zaki Rakhmawan hafizhahullah.

Gambar https://unsplash.com/photos/3GNE8tweaP4

COMMENTS