ANTARA GULAI DAN YOGHURT, SEBUAH TELAAH PERSPEKTIF TENTANG BEDA PLATFORM MENGAJAR ANTARA SATU USTADZ DAN USTADZ LAINNYA

ANTARA GULAI DAN YOGHURT

SEBUAH TELAAH PERSPEKTIF TENTANG
BEDA PLATFORM MENGAJAR ANTARA SATU USTADZ DAN USTADZ LAINNYA.

Adanya perbedaan metode pengajaran seorang ustadz dengan ustadz lainnya dalam penyampaian materi ilmu itu adalah sesuatu yang lumrah dan wajar.

Sebagai contoh hal tersebut adalah metode pengajaran yang berbeda-beda, contoh secara garis umum bisa dikategorikan sebagai berikut:

a. Dibolehkan bertanya ketika kajian berlangsung dan sang ustadz pun memberikan pertanyaan kepada muridnya.

b. Tidak dibolehkan bertanya ketika kajian berlangsung dan hanya boleh bertanya ketika diberikan kesempatan untuk bertanya.

c. Tidak dibolehkan bertanya ketika kajian berlangsung dan tidak boleh bertanya sama sekali setelah kajian selesai.

Terkadang perbedaan platform metode mengajar yang seperti diatas pun oleh sebagian para penuntut ilmu dipermasalahkan. Bisa jadi karena ketika dia berusaha untuk menelaah awal dari majelis ilmunya atau tempat kajiannya memberikan kenyamanan kepadanya. Ketika dia harus duduk di majelis ilmu lainnya yang platform metode mengajarnya lain maka dia pun tidak nyaman dan berusaha untuk membandingkan antara beberapa metode mengajar tersebut.

Seorang penuntut ilmu bisa jadi telah terbiasa duduk di majelis ilmu yang metode pengajarannya menyenangkan, merasa nyaman dengan melihat “Inilah rasa masakan gulai dan rawon yang paling enak”. Di lain kesempatan dia juga menghadiri kajian ilmu yang metodenya lain, bahkan terasa asing baginya sehingga bisa dikatakan pemisalannya, “Ini rasa yoghurtnya sangat kecut sekali, saya tidak terbiasa dengan rasa kecut seperti ini”. Bisa jadi ketika dia makan gulai kemudian makan yoghurt akan bersinergi memberikan kemanfaatan yang optimal baginya. Namun sayangnya persepsi ini tidak ada pada setiap orang yang menuntut ilmu syar’i.

Dikotomi platform metode mengajar yang seperti ini lah yang terkadang menjadikan seorang penuntut ilmu yang “masih sering baper” mengedepankan perasaan (negatifnya) dan memandang segala sesuatu hanya dari persepsinya saja menjadi susah untuk move on ataupun susah maju ke depan untuk terus bersemangat dalam menuntut ilmu bahkan mudah bosan, jemu dan apatis.

Sisi pandang seorang murid dalam mengejawantahkan platform metode pengajaran dari ustadznya atau pengajarnya itulah yang akan menjadikan dia akan tetap bisa istiqamah dalam menuntut ilmu atau tidak. Karena sesungguhnya dia menyadari dengan platform apa saja dari ustadz A atau ustadz B ataupun ustadz C tetap saja hakikat yang memberikan pemahaman itu adalah Allah Ta’ala bukan ustadznya. Maka dia pun akan mendorong dirinya untuk memahami konteks perbedaan platform mengajar itu sebagai bagian dari ujian dan lecutan semangat baginya. Hingga akhirnya dia pun menyerahkan semuanya kepada Allah Azza wa Jalla dan terus berusaha untuk doa dan munajat kepada Allah agar diberikan ilmu yang bermanfaat.

Kesadaran seorang penuntut ilmu yang menyadari bahwa Allah lah yang memberikan ilmu dan pemahaman, bukan ustadznya ataupun bukan kitab yang dipelajarinya begitupun bukan tempat yang dipakai dalam menuntut ilmu. Keberadaan ustadz, kitab dan tempat adalah termasuk wasilah atau sarana dan sebab diberikannya ilmu dan pemahaman.

Konsekuensi dari kesadaran tersebut adalah seorang penuntut ilmu senantiasa berusaha untuk husnu dzon berbaik sangka kepada siapapun yang mengajarkan ilmu kepadanya. Selama ustadz atau pengajarnya tersebut senantiasa menjunjung tinggi nilai keilmiyahan ilmu syar’i yang diajarkannya (yaitu senantiasa mendasari apa yang disampaikannya berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah yang shohih) maka dia pun akan merasa nyaman dan akan mendapatkan barokah dari ilmu yang didapatkannya.

Sebaliknya seorang penuntut ilmu yang gagal focus dan gagal husnu dzon kepada ustadz/pengajarnya maka dia pun akan merasa cepat bosan dan susah untuk mendapatkan kebarokahan ilmu syar’I (نَسْأَلُ اللهَ السَّلاَمَةَ وَالعَافِيَةَ – nas-alullah as-Salamah wal ‘Afiyah – kita meminta kepada Allah kesalamatan dan perlindungan-Nya), dimanapun dia duduk belajar menuntut ilmu maka diapun tidak akan mendapatkan kenyamanan dan barokahnya ilmu.

Efek lanjut dari husnu dzon seorang murid kepada ustadznya/gurunya akan mendorong dirinya untuk berusaha mendoakan kebaikan kepada ustadznya. Bisa jadi ustadznya melakukan kesalahan dan kekurangan dalam pengajarannya dikarenakan minimnya atau sedikitnya doa kebaikan dari murid-muridnya. Begitu pula sebaliknya seorang pengajar adalah seperti orang tua maka hendaknya diapun berusaha untuk mendoakan kebaikan kepada murid-muridnya layaknya seorang orang tua mendoakan kebaikan kepada anak-anaknya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ أُعَلِّمُكُمْ

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku bagi kalian hanyalah seperti kedudukan orang tua, aku ajarkan kepada kalian.”
(HR. Abu Dawud no. 8, lihat Shohih Abu Dawud no. 6 dan Shohihul Jami’ as-Shoghir no. 2346, hasan)

Hadits diatas sering dijelaskan oleh Syaikh Sholih al-masy’ari hafizhahullah, ketika beliau menjelaskan tentang wajibnya seorang murid untuk mematuhi dan menghormati gurunya. Karena gurunya itu adalah seperti orang tuanya, manakala dia marah maka marahnya itu bukan karena benci tapi karena sayang, manakalah dia ditanya maka itupun adalah bagian dari rasa sayang orang tua kepada anaknya bukan untuk menjelekkan atau menjatuhkannya.

Efek positif lainnya adalah dakwah penyebaran ilmu syar’I kepada kaum muslimin akan berjalan lancar dan antara para ustadz mampu bersinergi untuk kemashlahatan umat. Begitu pula dakwah syiar Islam menjadi bersih dari para pembisik jelek ataupun para “Nammam” (pengadu domba) yang bisa jadi keberadaan mereka diawali dari rasa tidak nyaman dan suudzon kepada ustadz/pengajarnya (kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut).

Semoga bermanfaat.

📝 Ustadz Zaki Rakhmawan Abu Usaid Hafidzahulloh

COMMENTS