TRENDING, FOLLOWERS DAN BAROKAH.

TRENDING, FOLLOWERS DAN BAROKAH.

“Jangan lupa like, share, subscribe Aktifkan notifikasi nya”

Sebuah kata yang sekarang menjadi “Jompa jampi” di jaman kiwari ini.

Oh Fulan sudah sampai satu juta followers, eit tunggu dulu fulanah sudah sampai tembus 50 juta followers dan lainnya. Itu acap terdengar di berbagai medsos. “Terima kasih gaes sudah dukung gue untuk menjadi trending no 1…dan lainnya”.

Apalagi trendingnya dengan LAGU, MUSIK dan apa saja yang tidak dibenarkan secara syar’i. Bahkan memberikan nisbat yang tidak selayaknya kepada ISTRI NABI ﷺ ataupun para Shahabat Nabi yang mulia radhiallahu’anhum.

Jurus-jurus medsos tersebut tidak sebanding dengan
Followersnya Nabi Shallallahu’alaihi wassalam, Shahabatnya bahkan para Imam Ahlul Hadits yang masyhur seperti Imam Al-Bukhori (wafat 256 H), Muslim (wafat 261 H), dan lainnya. Sepeninggal mereka kebaikan mereka senantiasa dipelajari, diamalkan dan disebarkan kepada banyak orang. Lalu apakah kebaikan dari para pemilik trending dan paling banyak followersnya bisa menjadikan jaminan bahwa sepeninggalnya mereka kebaikannya akan dipelajari, diamalkan dan disebarkan? Apakah trending dan followersnya mereka adalah barometer ukuran kebarokahan hidup seorang youtubers, ataupun bintang instragram dan medsos lainnya?

Padahal barokah itu menurut para ulama adalah:

ثُبُوْتُ الخَيْرِ وَنَمَاؤُهُ

Tetapnya kebaikan dan terus berkembangnya.

Setiap komen yang digelontorkan hanya berharap channel atau akunnya dipuji dan difollow. Diblow up apa saja yang laku dipasaran bahkan dengan jalan yang menyelisihi syari’at Islam.

Kita perlu hati-hati ketika dipuji orang karena pujian ini bisa membuat diri kita semakin ujub dan sombong. Allah lebih tahu isi hati kita, juga diri kita lebih tahu lemahnya diri kita dibanding orang lain. Jadi jangan terlalu merasa takjub dengan sanjungan orang apalagi diucapkan di hadapan kita..

Ketika dipuji, seorang dari Shahabat Nabi Shallallahu’alaihi wasallam berdoa dan bukan minta untuk di share pujiannya, ataupun di comment, simaklah hadits mulia berikut:,

عَنْ عَدِيِّ بْنِ أَرْطَأَةَ قَالَ: كَانَ الرَّجُلُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زُكِّيَ قَالَ: اللَّهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ

Dari ‘Adiy bin Arthoah, dia berkata, “Dulu ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang apabila dia dipuji mengucapkan, “Ya Allah, jangan Engkau menghukumku disebabkan pujian yang dia ucapkan, ampunilah aku, atas kekurangan yang tidak mereka ketahui. Dan jadikan aku lebih baik dari pada penilaian yang mereka berikan untukku.”

Doa ini diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam Al Adabul Mufrad (no. 761) dan sanadnya dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shohih al-Adabul Mufrad no. 589. Juga al-Baihaqi dalam Syua’abul Iman no. 4534).

Disebutkan pula dalam Al-Adabul Mufrod karya Imam Al Bukhari mengenai hadits di atas ketika beliau sebutkan dalam Bab

بَابُ مَا يَقُولُ الرَّجُلُ إِذَا زُكِّيَ

“Apa yang disebutkan oleh seseorang ketika ia disanjung.”

(Ada yang menisbatkan doa tersebut kepada Abu Bakar radhiallahu’anhu Lihat Maushu’ah al-Albani fil ‘Aqidah 1/213 )

Bahkan Teladan kita, Rasulullah ﷺ
ketika ada shahabatnya yang memujinya, “Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling agung kebaikannya.” Serta merta beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan

: قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ أَو بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ. “

“Katakanlah sesuai dengan apa yang biasa (wajar) kalian katakan, atau seperti sebagian ucapan kalian dan janganlah sampai kalian terseret oleh syaithan”
(HR. Abu Dawud no 4806, al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no 211, an-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 247, 249, shohih lihat Shahiihul Adabil Mufrad no 155))

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (wafat th 187 H) berkata:

” مَا دَخَلَ عَلَيَّ أَحَدٌ إِلَّا خِفْتُ أَنْ أَتَصنَّعَ لَهُ أَوْ يَتَصنَّعَ لِي “

Tidaklah seorang mendatangiku kecuali aku merasa takut untuk berpura-pura akting baik untuknya ataupun dia berpura-pura akting baik kepadaku. (Lihat Syu’abul Iman Lil Baihaqy no. 4541)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,,

فَمِنْ ضَعْفِ اليَقِيْنِ أَنْ تُرْضِيَ النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ; إِذْ إِنَّك َخِفْتَ النَّاسَ أَكْثَرُ مِمَّا تَخَافُ اللهَ، وَهَذَا مِمَّا ابْتُلِيَتْ بِهِ الأُمَّة ُالإِسْلَامِيَّةُ اليَوْمَ; فَتَجِدُ الإِنْسَانَ يَجِيْءُ إِلَى شَخْصٍ فَيَمْدَحُهُ، وَقَدْ يَكُوْنُ خَالِيًا مِنْ هَذَا الـمَدْحِ، وَلَا يُبَيِّنُ مَا فِيْهِ مِنْ عُيُوْبٍ، وَهَذَا مِنَ النِّفَاقِ وَلَيْسَ مِنَ النُّصْحِ وَالْمَحَبَّةِ

Karena lemahnya keyakinan, engkau mencari ridho manusia dengan menyebabkan kemurkaan Allah tatkala takutmu kepada manusia lebih besar daripada takutmu kepada Allah. Inilah musibah yang menimpa umat Islam saat ini. Engkau dapati (sebagian) manusia datang ketika menemui seseorang, maka dia memujinya. Bisa jadi pujian tersebut tidak ada pada dirinya. Dia juga tidak menyebutkan kekurangannya (dalam rangka menasihati). Ini adalah termasuk dari sifat munafik dan bukan termasuk memberikan nasihat dan kecintaan.”
(Lihat Al-Qaul al-Mufid, hlm. 419 cet. Daar Ibn al-Jauzy th. 1437 H)

Cobalah bagi yang punya akun medsos yang tinggi rating followernya, mulai sekarang doakan followersnya agar diarahkan bukan

“jangan lupa share, like, subscribe dan comment”

tapi gantilah dengan

“jangan lupa doakan agar kami tetap bisa istiqamah memberikan kebarokahan kepada umat. Tanpa doa antum apa yang dilakukan saya adalah tak ada apa-apanya. Karena mudhorot dan manfaat itu adalah hak Absolut dari Allah ‘Azza wa Jalla.”

Semoga Allah menjaga kita untuk senantiasa istiqamah ikhlas dalam menuntut ilmu, mengamalkannya, mendakwahkannya dengan hikmah, serta dijauhkan dari mencari ridhonya followers maupun ornament pujian manusia lainnya.

Ustadz Abu Usaid Zaki Rakhmawan Hafidzahulloh

COMMENTS