VIRUS CORONA OH KORONA

VIRUS CORONA OH KORONA
(baca: KORONA –
K ON
O KEH
R AJIN
O LEHE
N ANDUR
A MAL)

Arti Bahasa jawanya adalah Diminta untuk lebih rajin dalam menanam amal kebaikan.

Ini adalah sebuah renungan untuk mengajak diriku dan dirimu untuk bersegera melakukan kebaikan sebelum datang musibah.

Sudah mulai kepanikan ada dimana-mana, manusia tersadar hanya dengan hitungan waktu yang singkat kehidupan mereka bisa melenceng dan terbalik tidak sama dengan apa yang mereka rencanakan dari awal.

Bahaya virus korona di viralkan sebagai bahaya yang sangat dahsyat, sehingga orang pun mulai berfikir untuk melakukan aktifitasnya sehari-hari, memborong masker dan bahan pangan bahkan berbagai tempat dan layanan publik ditutup sebagai antisipasi dan pencegahan virus tersebut. (Allahul Musta’an)

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al Baqarah: 148).

Maksud ayat ini kata Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

فَالِاسْتِبَاقُ مَعْنَاهُ:أَنَّ الإِنْسَانَ يَسْبِقُ إِلَى الخَيْرِ، وَيَكُوْنُ مِنْ أَوَّلِ النَّاسِ فِي الخَيْرِ

Makna dari Istibaq adalah bahwa manusia hendaknya berlomba-lomba bersegera menuju kebaikan, maka hendaknya mereka menjadi orang paling terdepan (pertama) dalam melakukan kebaikan. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin 2/6 cet Madarul Wathan Linnasyr th. 1436 H).

Allah Ta’ala berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit-langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133).

Begitu pula Firman Allah Ta’ala:

فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا۟ يَأْتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 148)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan:

وَمَنْ سَبَقَ فِي الدُّنْيَا إِلَى الخَيْرَاتِ، فَهُوَ السَّابِقُ فِي الآخِرَةِ إِلَى الجَنَّاتِ، فَالسَابِقُوْنَ أَعْلَى الخَلْقِ دَرَجَةً، وَالخَيْرَاتِ تَشْمَلُ جَمِيْعَ الفَرَائِضِ وَالنَوَافِلِ، مِنْ صَلَاة،ٍ وَصِيَامٍ، وَزكَوَاتِ وَحَجٍّ، عُمْرَةٍ، وَجِهَادٍ

Barang siapa yang ketika di dunia bersegera kepada kebaikan berarti ia adalah orang yang terdepan di akhirat menuju surga-surga. Dengan demikian, orang-orang yang berlomba/terdepan dalam kebaikan adalah hamba-hamba yang paling tinggi derajatnya. Dan Kebaikan-kebaikan itu meliputi seluruh ibadah yang wajib maupun yang sunnah, baik itu sholat, puasa, zakat, haji, umroh dan jihad. (Lihat Taisir al-Karimir Rahman, halaman 73, cet. Muassassah ar-Risalah th. 1423 H).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118).

Selanjutnya, Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih” (QS. al-Munafiqun :10)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) menjelaskan pada ayat ini,

ثُمَّ حَثَّهُمْ عَلَى الْإِنْفَاقِ فِي طَاعَتِهِ

Kemudian Allah Azza wa Jalla menghimbau kaum Mukminin untuk berinfak dalam ketaatan kepada Allah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/106 cet. Al Maktabah at-Taufiqiyah )

Siapapun tidak akan merasakan memiliki harta ketika ia berada dalam kondisi sakaratul maut, karena dirinya terpaku pada dahsyatnya rasa sakit dan ketakutan yang sedang dihadapi. Bahkan ketika dalam kondisi sakit, orang kaya pun tidak merasakan dirinya memiliki kekayaan yang melimpah. Maka, apapun akan diserahkan guna menyelamatkannya dari kondisi yang sulit itu (sakaratul maut). Apapun akan ditebus untuk mengobati penyakitnya.

Perhatikanlah lisan mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat menjawab pertanyaan seorang Sahabat tentang infak yang paling afdhal.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: أَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ؟ فَقَالَ: ” أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى، وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ: لِفُلَانٍ كَذَا، وَلِفُلَانٍ كَذَا، أَلَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ “

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, “Ada seorang lelaki mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah shodaqah yang paling besar pahalanya?”. Beliau menjawab: “Yaitu engkau bersedekah tatkala merasa sehat lagi bakhil, dan engkau khawatirkan kekurangan serta mengimpikan menjadi orang kaya maka janganlah kamu menunda-nundanya hingga tiba ketika nyawamu berada di tenggorakanmu. Lalu engkau berkata, Si fulan punya ini, si fulan begini. Padahal hart aitu milik si fulan.” (HR. al-Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1032)

Semuanya didiskon murah-murahan, dari tiket pesawat, dan kebutuhan transportasipun di jual murah. Yang masih dijual MAHAL adalah PARA PEMILIK TANAH yang masih berharap dengan LUAS TANAHNYA bisa menyelamatkan anak-cucunya dari kemiskinan di dunia walaupun terkadang dia tahu bahwa itupun tidak akan cukup tapi ILMU NGEYEL pun masih dipakainya. (Allahul Musta’an). Begitu pula para saudagar kaya yang masih berharap seluruh tabungannya dapat menyelamatkannya.

Mas, Mbak, Mbah, Pak, Bu, Dik, sedulur sekalian, marilah kita beramal sholih segera sebelum kita dipaksa untuk menyesal pada hari yang tidak ada lagi kemungkinan untuk beramal sholih.

Ditulis oleh Zaki Abu Usaid (semoga Allah memaafkan dosa-dosanya)

Gelanyut jiwa dari seorang ustadz kampung Kota Magelang Yang masih selalu menunggu kemudahan dari Allah Azza wa Jalla, KORONA sudah mendekat, tapi belum juga mendapatkan lahan tanah untuk dibangun berbagai ketaatan di dalamnya – di Kampung Kota Magelang.

COMMENTS